Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta di Maluku dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Paulo Freire
PENDAPAT
- Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah dua aspek penting dalam pengembangan sumber daya di PTS. Namun, keterbatasan dana dan fasilitas selalu menjadi hambatan bagi dosen/mahasiswa untuk melakukan penelitian yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal.
Pemerintah Indonesia c.q. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi secara berkala membuka kesempatan untuk memperoleh dana hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang kompetitif secara nasional. Namun, pada skala prosentase nasional jumlah peraih dana hibah tersebut (dosen/mahasiswa) dari Maluku belum signifikan.
Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip pendidikan Paulo Freire, PTS di Maluku dapat mengembangkan sumber daya mereka secara lebih efektif, baik dalam hal finansial, manusia, maupun material, sehingga mampu menyediakan pendidikan yang berkualitas dan relevan bagi masyarakat Maluku. Misalnya, penelitian tentang pengelolaan sumber daya alam, kesehatan masyarakat, atau pendidikan yang sesuai dengan kondisi sosial-budaya kepulauan Maluku.
Infrastruktur Pendidikan
- Keterbatasan Gedung dan Fasilitas
Sejumlah besar PTS beroperasi dengan bangunan yang tidak dirancang khusus untuk pendidikan tinggi, ruang kelas yang tidak memadai, laboratorium yang minim, serta fasilitas perpustakaan yang terbatas. Kondisi ini tidak kondusif dan sulit untuk proses pembelajaran yang interaktif bagi mahasiswa.
Dalam perspektif Freire, lingkungan fisik tempat belajar sangat mempengaruhi proses pendidikan. Pendidikan harus bersifat dialogis dan partisipatif, yang mensyaratkan ketersediaan infrastruktur pendidikan sehingga terbentuk interaksi yang efektif antara dosen-mahasiswa dan mahasiswa-mahasiswa.
Kelas yang sempit dan tidak layak dapat menghambat proses dialog yang sehat dan interaksi yang kritis, padahal itulah inti dari pendidikan yang membebaskan. Untuk itu, PTS di Maluku perlu merancang strategi pengembangan infrastruktur yang komprehensif dan berkelanjutan, yang mencakup pembangunan/renovasi gedung yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan tinggi (ruang kelas yang layak, laboratorium dengan peralatan yang memadai, perpustakaan yang menyediakan akses ke sumber daya akademik yang diperlukan).
- Akses terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Pada era digital seperti sekarang, akses terhadap TIK menjadi komponen infrastruktur pendidikan yang krusial. Namun, sebagian besar PTS di Maluku masih menghadapi tantangan serius dalam hal ini. Keterbatasan akses internet, kurangnya perangkat teknologi, dan rendahnya literasi digital di kalangan mahasiswa dan dosen menjadi penghalang utama dalam penerapan TIK dalam proses pendidikan.
Jika Freire menekankan pentingnya relevansi dan kontekstualisasi pendidikan, itu berarti bahwa teknologi mesti digunakan untuk mendukung proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Dalam konteks Maluku, TIK dapat menjadi alat yang efektif untuk mengatasi keterbatasan fisik dan geografis yang dihadapi oleh PTS.
Misalnya, dengan akses internet yang memadai, PTS dapat mengembangkan program e-learning atau blended learning yang memungkinkan mahasiswa di pulau-pulau terluar tetap terhubung dengan proses pendidikan tanpa selalu berada di kampus. Intensitas kerjasama dengan penyedia layanan internet (provider) diperlukan untuk memperluas akses internet di pulau-pulau yang masih sulit dijangkau. Dengan infrastruktur TIK yang memadai, PTS dapat lebih fleksibel dalam mengembangkan program pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
- Minimnya Sarana Pendukung Pendidikan
Infrastruktur pendidikan juga mencakup sarana pendukung lain bagi proses pembelajaran yang holistik, seperti asrama mahasiswa, pusat kesehatan, kantin, dan fasilitas olahraga, untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyeluruh dan mendukung kesejahteraan mahasiswa.
Di banyak PTS di Maluku, sarana-sarana ini sulit tersedia atau, kalaupun ada, kondisinya sangat minim. Hal ini mempengaruhi motivasi dan kesejahteraan mahasiswa, yang pada gilirannya berimplikasi pada proses pembinaan dan hasil belajar mereka. Ketiadaan asrama yang memadai dapat menyulitkan mahasiswa dari pulau-pulau di luar Ambon, misalnya, untuk tinggal dekat dengan kampus.
Pada sisi lain, kurangnya fasilitas kesehatan dapat menghambat penanganan masalah kesehatan yang bisa mempengaruhi proses belajar. Pendidikan yang membebaskan bagi Freire mengarah pada pengertian bahwa pendidikan harus memperhatikan kesejahteraan total dari peserta didik, termasuk kebutuhan fisik, emosional, dan sosial mereka. Oleh karena itu, pengembangkan infrastruktur pendukung pembelajaran di PTS tidak sebatas untuk kepentingan akademik, tetapi juga untuk aspek-aspek non-akademik yang mempengaruhi kesejahteraan mahasiswa.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



