Pendapat

Toko Buku di Makassar dan Keragaman Bacaan pada Masanya

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


Pergi ke toko buku, bukan cuma untuk mencari dan membeli buku. Namun jadi semacam pengalaman perjalanan dan ingatan tentang betapa gairahnya kita mencari bacaan-bacaan yang tak melulu berkaitan dengan disiplin ilmu kita di bangku kuliah.

Era 1980an — 1990an

Saya yang baru menetap di Makassar tahun 1987, merasakan betapa kota ini punya banyak pilihan toko buku untuk didatangi, dibanding ketika saya masih berada di Ambon–mungkin hanya 3 toko buku (Toko Buku Nobel, Toko Buku Gunung Nona, dan Toko Buku Pelikan).

Walau untuk mengunjungi satu toko buku, butuh effort dan energi lantaran harus naik turun pete-pete atau nyambung angkot dari satu trayek ke trayek berikutnya. Toh dilakukan dengan ringan langkah dan hati riang. 

Padahal, kalau sudah tiba di toko buku yang akan dituju, belum tentu buku yang dicari tersedia. Ini terutama bila mencari buku-buku referensi yang direkomendasikan mata kuliah tertentu.

Artinya, ya harus ke toko buku lain, dan terpaksa naik angkot lagi. Masa itu, pencarian masih dilakukan manual. Perlu datang langsung ke toko bukunya. Kecuali bila ada info dari teman yang sudah lebih dahulu ke sana, itu akan memudahkan dan sangat membantu.

Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Belum ada model penjualan secara online, atau kita bisa bertanya melalui telepon. Sistem penjualannya masih pakai direct selling: datang, lihat, bayar ditempat.

Era itu, ada beberapa toko buku yang sering saya datangi, yakni Toko Buku Arena Ilmu, yang bersebelahan dengan Toko Buku Siswa, di Jalan RW Mongisidi, juga Toko Buku Bina Ilmu dan Toko Buku Dunia Ilmu di Jalan Bulukunyi. 

Dari keempat toko buku yang boleh dikata masih berada di satu kawasan itu, Toko Buku Arena Ilmu yang paling sering saya sambangi. Saya masih ingat wajah pasangan suami istri pemilik toko buku itu, yang selalu menyambut setiap pengunjung dengan senyum ramah.

Sebelum masuk mencari-cari buku, biasanya saya singgah di sisi kiri bagian depan, bertanya tentang buku baru atau buku yang lagi best seller. Di rak samping dan belakang pemiliknya berdiri, memang jadi etalase buku-buku yang dari judul-judulnya cukup memikat mata. 

Harga buku di toko ini mudah diketahui, karena ditulis dengan pensil pada pinggir halaman pertama. Belum menggunakan label harga atau pemindai elektronik, semacam scan QR code. Kalaupun ada diskon, nanti dikasir baru diberitahukan.


Penulis :
Editor :

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button