MalukuNasional

Dari Ambon Menyapa Panggung Nasional: Cerita di Balik Sepatu Serba Hitam ENE dan Kapala Itang

potretmaluku.id – Irama musik hip-hop yang membentak lembut mengalun beriringan dengan derak langkah kaki di trotoar perkotaan. Di balik bunyi yang rapat itu, ada identitas tegas yang terpancar dari deretan alas kaki berwarna serba hitam. 

Karakter visual tersebut kini menjelma menjadi jembatan budaya yang menghubungkan kreativitas anak muda Indonesia Timur dengan pusaran industri fesyen nasional. 

Semangat bersuara dari daerah itulah yang melandasi lahirnya kolaborasi antara merek alas kaki lokal ENE Footwear dan grup musik rap asal Maluku, Kapala Itang. 

Mengusung tajuk Rooted & Rising, kerja sama ini menyajikan koleksi edisi khusus Full Black, sebuah simbol perjalanan kreatif anak muda daerah yang tumbuh melintasi batas geografis tanpa pernah meninggalkan akar budayanya. 

Langkah ini menandai pergeseran gaya visual bagi ENE Footwear. Jika koleksi sebelumnya akrab dengan rona cerah atau kontras hitam-putih, edisi terbaru ini tampil jauh lebih lugas.

Balutan warna gelap yang pekat dirancang untuk merespons ritme hidup masyarakat modern, mulai dari ruang kerja, area kampus, hingga ruang-ruang kreatif yang dinamis. Dari sisi fungsionalitas, sapuan warna ini juga meminimalkan tampak debu dan noda air akibat pemakaian harian. 

WhatsApp Image 2026 07 24 at 18.43.49

Pilihan berkolaborasi dengan Kapala Itang bukan semata pertimbangan komersial. Ada perjumpaan gagasan yang bertaut secara alami. 

Nama “Kapala Itang” –yang secara harfiah bermakna kepala hitam– menjadi padanan pas bagi filosofi desain yang diusung. Bagi para personilnya, hitam bukan penanda kesunyian, melainkan keberanian, ketegasan, dan kelas. 

Kolaborasi ini diposisikan secara utuh. Bersamaan dengan peluncuran sepatu, Kapala Itang melepas lagu anyar bertajuk Sweet Song, pada 30 Agustus 2026 di Westwew Coffee Jakarta Barat, dan diharapkan warga perantauan dan masyarakat Maluku di Jakarta bisa ikut hadir meramaikan acara ini.

Langkah bertingkat ini menyatukan dua medium subkultur jalanan: audio lewat ritme lagu, dan visual lewat produk fesyen yang dapat dikenakan sehari-hari. 

Detail menarik tampak pada struktur fisik sepatu. ENE Footwear menggunakan kanvas 12 ons yang dipadu dengan aksen cetak DTF. 

Namun, karakter utamanya terletak pada bagian pelindung sol karet (bumper sole) yang dihiasi ukiran motif lambang kebudayaan dan persatuan masyarakat di daerah ini, yang disebut orang-orang tua dulu-dulu itu lambang siwalima. Unsur tradisional ini hadir secara halus di antara bentukan sepatu modern. 

Inisiatif ini dirancang sebagai pemantik ekosistem yang lebih luas. Melalui gerakan #ENErgyppl, ruang-ruang interaksi kreatif dibuka agar karya beridentitas lokal dapat terus mengalir, bertukar ide, dan mendapat tempat di panggung nasional.(TIA)

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button