Pendapat

In Memoriam: Servant Leadership Ongky Louhenapessy

Oleh: M. Jaya Barends (Eks Jurnalis Harian Pagi Siwalima)

Jasad Bung Ongky boleh saja beristirahat dalam damai, tetapi caranya memanusiakan manusia menolak ikut terkubur ke liang lahat. Kebaikan itu tetap hidup, merawat ingatan.

Malam itu, di tahun 2010, KM Marsegu perlahan menjauh dari Pelabuhan Bula, Seram Bagian Timur. Cerobong kapal menyemburkan asap hitam pekat ke langit malam, berkelindan dengan rintik hujan tipis yang membasahi lantai dek. Di sana, di antara sesak dan riuhnya penumpang, saya duduk lesu.

Jarak saya hanya dua meter dari cerobong asap. Pikiran saya berkecamuk tak keruan. Maklum, saat itu saya masih berstatus jurnalis magang di Harian Pagi Siwalima, baru sebulan mencecap dunia pers.

“Pasti kena marah sudah ini. Terlambat dari rombongan,” batin saya cemas, menatap lantai kapal dengan wajah tertekuk.

Tiba-tiba, sebuah suara ramah memecah lamunan saya dalam dialek khas Maluku. “Abang, mari duduk di sini,” ajak seorang wanita paruh baya sambil menggelar selembar tikar. “Di dalam kapal su penuh sesak,” lanjutnya seolah paham kegelisahan saya.

Ia mempersilakan saya duduk di sebelah kerabat prianya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung merapat. Di tengah guncangan kapal, saya meluruskan badan, merogoh gawai dari dalam tas, lalu menuliskan status singkat di beranda Facebook: ‘malam kelabu’. Setelah itu, mata saya terpejam, luruh dalam kantuk yang berat.

Keesokan paginya, pukul 08.30 WIT, saya terbangun ketika lantai kapal masih berayun dan bau asin laut menyengat hidung. Getar gawai di dalam ransel menyentak kesadaran saya. Begitu layar digeser, sebuah suara berat namun teramat lembut menyapa di ujung telepon. Suara yang sama sekali tidak membawa amarah.

“Jaya, kenapa?” tanya Pemimpin Harian Pagi Siwalima, Ongky M. Louhenapessy.

“Seng apa-apa, Bapa Ongky. Cuma beta terlambat dari rombongan, jadi terpaksa beta naik kapal perintis,” jawab saya terbata-bata, mencoba membela diri.

“Oh iya, nanti Bapa Ongky telepon MK (Mukti Keliobas) e. Bae-bae di jalan…” Percakapan itu terputus, meninggalkan rasa hangat yang sedikit mengikis kecemasan saya.

***

Kapal reot yang saya tumpangi akhirnya merapat di Pelabuhan Geser. Lengkingan klakson kapal menggema, bersiap melanjutkan sauh menuju Pulau Gorom. Namun, setelah perjalanan panjang yang melelahkan dari malam hingga siang, saya memilih turun di pulau ini. Perjalanan harus dilanjutkan ke Wakate menggunakan speedboat.

Di atas kapal cepat itu, ombak bertubi-tubi menghantam lambung kiri dan kanan. Sang juru mudi berdiri tenang tanpa riak takut di wajahnya; matanya jeli membaca arah angin dan mencari celah untuk membelah lapisan ombak terkecil.


Penulis :
Editor :

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button