Program inkubasi MTN Lab x Rempah Gunung menjadi ruang pembuktian bagi talenta muda Maluku, menjinakkan keterbatasan infrastruktur lewat keberanian berkarya mandiri.
Di bawah naungan panggung Taman Budaya, kawasan Karang Panjang, Kota Ambon, Sabtu malam, 25 Juli 2026, dentum musik tak sekadar mengalun sebagai hiburan penutup pekan. Lagu-lagu bernuansa eksperimental, olah vokal etnik, hentakan ritme darbuka, hingga balutan musik elektronik menyatu menggetarkan udara Ambon.
Malam itu menjadi puncak dari gelaran MTN Lab x Rempah Gunung, sebuah ajang inkubasi kreatif lima hari yang membedah kembali mitos lama: bahwa musik di Maluku cukup berbekal bakat alamiah semata.
Bagi Lola Abrahams, vokalis grup musik etnik Kai Hulu yang menjadi salah satu dari 10 peserta pelatihan intensif, proses inkubasi ini terasa bagai titik balik personal yang membongkar keraguan dirinya.
Menurut Lola, selama ini, masyarakat Ambon kerap menganggap bakat musik sebagai DNA yang diwarisi begitu saja secara turun-temurun, sebuah persepsi intuitif yang membuat musisi lokal berproses tanpa memperhitungkan bagaimana sebuah karya diproduksi, dikelola, dan disampaikan agar memberi dampak nyata.
Menjalani sesi intensif bersama para narasumber, mengajarkannya bahwa merangkai karya membutuhkan struktur dan strategi matang, mulai dari penulisan lirik yang terstruktur, strategi promosi, hingga penguatan elemen visual pendukung identitas musik.
Di samping pembekalan teknis dan manajerial, dorongan mentor di ruang pelatihan menjadi pemicu keberanian baru bagi Lola untuk melangkah keluar dari zona nyamannya.
“Jujur, tadinya saya datang dengan perasaan kosong dan ragu. Selama ini ada stigma diri yang menghambat saya untuk tampil sendiri,” aku Lola terus terang.
Pembuktian itu hadir saat sesi presentasi karya, ketika masukan konstruktif para narasumber berhasil membangun kembali kepercayaan dirinya.
“Melalui proses ini, rasa percaya diri itu perlahan terbentuk. Ketika mendengarkan hasil karya sendiri, saya baru menyadari bahwa ternyata saya mampu.”
Keajaiban di Panggung Malam Puncak
Atmosfer magis malam puncak pertunjukan dibuka oleh Ardelony Imlabla atau yang akrab disapa Padel. Sejak petik suara pertama, ia seolah menarik semua orang masuk ke dalam dunianya.
Aliran musik yang dibawakannya mungkin bukan jenis yang lazim atau sering dimainkan di Ambon, namun ajaibnya, tak ada penonton yang merasa asing. Semua terhanyut. Padel berhasil membangun panggungnya, memberi pintu masuk yang sempurna untuk petualangan nada malam itu.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



