Menelusuri Jejak Landasan Pacu Jepang Dalam Perang Pasifik Di Wasior, Teluk Wondama*)
TELUSUR SEJARAH
Jepang Membangun Landasan Pacu Di Tanah Papua
Guna mendukung kekuatan perangnya dan menghadapi Sekutu, Jepang pun membangun landasan pacu (airfield/drome) di beberapa tempat di Tanah Papua, khususnya di Papua Barat. Landasan pacu itu sifatnya masih kasar dan sederhana, yang penting sudah bisa dipergunakan untuk kebutuhan pesawat tempurnya.
Untuk membangun berbagai landasan pacu itu, Jepang menggunakan tenaga kerja paksa alias romusha. Selain penduduk lokal, terkadang Jepang juga menggunakan tenaga romusha dari Jawa. Setelah pembangunan landasan yang satu rampung, mereka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya untuk membangun landasan pacu juga.
Menurut data yang ada pada penulis, landasan pacu yang benar-benar dibangun oleh Jepang terdapat di beberapa lokasi. Di antaranya, di Manokwari Selatan, di Biak, di Nabire dan di beberapa tempat lainnya. Jepang juga menggunakan landasan pacu yang sudah ada sebelumnya, yang dibuat oleh Belanda (Nederland Nieuw Guinea).
Baca Juga: Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru Papua Barat
Untuk di Manokwari Selatan, Jepang sedikitnya telah membangun tiga landasan pacu. Ketiganya terdapat di dan dikenal sebagai Waren Airfield, Momi Airfield dan Waremor Airfield. Meski saat ini landasan pacu itu sudah mulai tidak berbentuk lagi karena tertutup semak belukar atau telah difungsikan untuk hal lainnya, tetapi jejaknya masih dapat terlihat.
Khusus untuk di Wasior, Jepang juga saat itu telah membangun dua landasan pacu sederhana di tepi pantai. Kedua landasan pacu itu dikenal dengan nama Moemi Airfield dan Sagan Airfield. Untuk penamaan memang terkadang Jepang menggunakan nama yang sama dan tidak menggunakan nama baru lagi. Misalnya Moemi/Momi Airfield disebut Moemi I (Manokwari Selatan), Moemi II (Wasior) dan Moemi III (Teluk Bintuni). Begitu juga Sagan, disebut Sagan I (Fak Fak), Sagan II (Wasior) dan Sagan III (Nabire).

Jepang Membangun Dua Landasan Pacu di Wasior
Hingga saat ini, bekas landasan pacu tunggal yang dibangun Jepang di Manggurai dan Wondamawi masih bisa dilihat jejaknya. Di Manggurai, Jepang membangun landasan pacu dengan arah landasan ke pantai. Sedangkan untuk di Wondamawi, landasan itu sejajar dengan bibir pantai.
Di Manggurai atau Iriati, lokasinya terletak pada 6GQ5+9C, Iriati, Wasior, Kab. Teluk Wondama. Jepang memberikan nama landasan pacu tunggal ini dengan Moemi Drome. Saat ini lokasinya persis di belakang Gudang Dinas Kesehatan Kab. Teluk Wondama atau berdekatan dengan tempat pembuangan sampah (TPS) Manggurai.
Moemi Drome ini dibangun oleh Japanese Army Air Force (JAAP) pada Mei 1944 dan dipergunakan sebagai landasan pacu militer hingga Jepang menyerah kepada Sekutu (Allied Forces) pada September 1945. Dari 13 Mei hingga 14 Oktober 1944, Pasukan Sekutu menggempur landasan pacu ini sebanyak 28 kali dengan pesawat pembom dari angkatan udara FEAF dan 5th AF.
Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari
Sedangkan landasan pacu yang satu lagi dibangun oleh JAAP dengan titik ordinat 6G7F+FV, Wondamawi II, Wasior, Kab. Teluk Wondama. Nama yang diberikan adalah Sagan II, sebab Sagan I merupakan nama landasan pacu Jepang yang ada di Kampung Otawar, Fak Fak. Lokasi Sagan Drome itu kini di dekat GBI Dock 4 atau SD YPK Wondamawi, di Manopi.
Landasan pacu Jepang ini dibangun dengan menggunakan batu karang yang dihancurkan. Arahnya sejajar mengikuti garis pantai. Jepang membangun Sagan Drome ini sekitar tahun 1944. Pasukan Udara Sekutu (5th AF, FEAF dan RAS) menggempur landasan pacu ini sebanyak 18 kali mulai 8 Juli hingga 31 Oktober 1944. Beberapa jenis pesawat pembom Sekutu menghancurkan landasan pacu Sagan dan kawasan sekitarnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



