Adat & Agama Menyatu, Mengiring “Tiang Alif” di Langit Uliala Leisiwa
potretmaluku.id – Langit Negeri Seith di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) kembali disemarakkan dengan prosesi pemasangan “Tiang Alif” Masjid Nurul Yaqin, sebuah tradisi sakral yang melambangkan penyatuan nilai adat dan agama.
Ritual yang berlangsung pada Minggu (18/5/2025) itu menjadi komitmen masyarakat di negeri bertajuk “Uliala Leisiwa” dalam menjaga warisan budaya dan keislaman.

Ribuan warga berkumpul sejak pagi hari. Bunyi tifa, tabuhan rebana, hingga lantunan dzikir menggema dari rumah-rumah tua di Soa Lebehelu dan Soa Wasila hingga ke halaman Masjid Nurul Yaqin.
Bagi masyarakat islam Leihitu pada umumnya, tak terkecuali Seith, Tiang Alif dimaknai bukan sekadar simbol struktural, namun juga memiliki makna spiritual yang tinggi.
‘Tiang Alif’ merupakan manifestasi kesatuan antara langit dan bumi, antara kehendak leluhur dan Ilahi.
Prosesinya diawali dengan pembacaan doa oleh tokoh agama di Masjid Ulupaha, tempat dimana ‘Tiang Alif’ disimpan.
Setelah itu, Tiang Alif atau yang disebut ‘Mamolin’ (Tiang Pamali) itu digotong warga menuju rumah tukang dengan iringan tarian cakalele oleh para kapitan, sebelum dilakukan pemasangan pada tempat diatas kubah masjid yang disebut aras oleh masyarakat setempat.

Tak sedikit orang yang harus kerasukan dari sakralnya acara tersebut. Itu menjadi penanda bahwa mereka dirasuki para leluhur yang datang dan ikut bersuka ria dalam ritual tersebut.
“Bagi kami, adat dan agama ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan. Dan “Tiang Alif” adalah lambang bahwa negeri ini berdiri di atas keduanya,”ujar Ketua seksi adat, Jafar Hatuina.
Menurutnya, ini merupakan kali ketiga pergantian Tiang Alif, setelah berpindah dari hutan ke tempatnya yang sekarang. Pergantian pertama dilakukan pada tahun 1993, kemudian di tahun 2009 dan sekarang tahun 2025.
“Jauh sebelum itu, masjid awal itu berada di hutan, tepatnya di dusun Tihu, Negeri Seith, pasca masyarakat turun ke pesisir. Setelah itu dipindahkan ke lokasi ini barulah dibangun Masjid Nurul Yaqin,”ungkapnya.
Ia mengaku, sejak penurunan ‘Tiang Alif’ yang lama hingga penenggelaman di lautan dan pengambilan kayu sebagai penggantinya, pun berlangsung sakral.

Bahan utama dari Tiang Alif adalah kayu jenis bintangur, yang diambil pada April lalu di hutan dusun Boyan, Seith.
“Mulai dari proses pengambilan hingga pekerjaan pemahatan kayu Tiang Alif, semuanya dilakukan dengan prosesi adat dan agama,”tuturnya.

Sementara itu, Raja Negeri Seith, Rivi Ramli Nukuhehe mengatakan, pergantian tiang ‘Alif’ Masjid Nurul Yakin itu dilakukan mengingat kayu penyangga tiang alif yang lama telah rapuh.
“Memang sudah harus diganti guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,”imbuh Nukuhehe.
Upulatu Uliala Leisiwa itu menyebut, prosesi pergantian, muali dari penurunan, penenggelaman tiang lama hingga pemasangan yang baru, berlangsung khidmat. Ia pun bersyukur semua prosesi berjalan baik dan lancar.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami masyarakat Negeri Seith. Kami mengapresiasi kerja panitia dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang turut mendukung prosesi penggantian acara tiang ‘Alif’ Masjid Nurul Yaqin Seith,”ungkap Nukuhehe.
Langit di Negeri Uliala Leisiwa siang itu tak hanya disinari mentari, tapi juga semangat kebersamaan dan harmoni antara adat dan agama. (SAH)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



