Menelusuri Jejak Landasan Pacu Jepang Dalam Perang Pasifik Di Wasior, Teluk Wondama*)
TELUSUR SEJARAH
Sekutu Membombardir Landasan Pacu Jepang di wasior
Menurut analisa yang telah dilakukan oleh penulis, pesawat tempur Sekutu yang melakukan pengeboman terhadap landasan pacu Jepang, biasanya bukanlah target tunggal melainkan target berkelanjutan. Maksudnya, pesawat pembom itu melakukan bombardir di beberapa drome/airfield milik Jepang.
Misalnya, setelah membombardir Manokwari Drome, pesawat tempur Sekutu itu lalu menggempur Moemi Drome dan Waren Airfield serta Waromer Airfield di Manokwari Selatan, lalu menggempur Babo Airfield dan terakhir menggempur Moemi dan Sagan Airfield di Wasior sebelum kembali ke pangkalan di Hollandia (Jayapura).
Oleh sebab itu, kadang tidak mengherankan bahwa pesawat tempur Sekutu itu kehabisan bahan bakar atau mengalami masalah teknis hingga jatuh dan hilang di pelosok pedalaman. Menurut catatan penulis, sekitar 10 pesawat tempur Sekutu mengalami nasib naas seperti itu. Oleh sebab itu, hingga kini jejak pesawat dan pilot pun masih dicari.
Baca Juga: Kunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura
Dalam Perang Pasifik atau Perang Dunia II dengan episentrum di Tanah Papua, Pasukan Sekutu yang dikenal dengan sebutan ABDA (America, British, Dutch & Australia) telah puluhan kali menggempur Moemi Drome dan Sagan Airfield di Wasior itu. Meski terkadang, catatan itu digabung menjadi satu dengan Moemi Airfield di dekat Ransiki, Manokwari Selatan atau Sagan Airfield di Otawiri, Fak Fak.
Angkatan Udara Amerika Serikat ke-5 atau 5th Air Force (AF) dan pasukan Far East Air Force (FEAF) memulai serangan udara sejak 13 Mei hingga 31 Oktober 1944. Selama enam bulan itu, puluhan pesawat tempur Sekutu silih berganti menyerang target di Wasior. Tercatat, 46 kali serangan udara dilancarkan untuk melumpuhkan Moemi Drome dan Sagan Airfield itu.

Jenis pesawat tempur yang dipergunakan Sekutu di antaranya adalah A-20, A-26, B-24, B-25, P-38, P-39, P-40 dan P-47. Pesawat itu biasanya disebut sebagai Black Widow atau Kittyhawk. Tercatat, jenis pesawat yang paling banyak melakukan serangan adalah jenis A-20 dan P-40 yang terdiri dari beberapa nomor seri. Ada Black Widow SN 42-40967, ada Kittyhawk SN A29-824, A29-641 dan A29-821.
Pesawat Sekutu membombardir Moemi Drome di Manggurai berturut-turut pada 13 dan 21 Mei 1944, lalu pada 19, 27 dan 29 Juni 1944 diikuti pada 5, 7, 11, 15, 17, 27 dan 29 Juli 1994 dilanjutkan pada 16, 27, 29 Agustus 1944 diteruskan pada 4, 5, 6, 10, 12, 16, 20, 22 dan 23 September 1944 dan terakhir pada 24 Oktober 1944.
Sedangkan Sagan II Airfield di Wondamawi dibombardir oleh pesawat Sekutu pada 4, 8, 29 Juli 1944 dilanjutkan pada 25 dan 27 Agustus 1944, lalu pada 10-12, 16 dan 25 September 1944 dan terakhir pada Oktober 1944 tanggal 15, 16, 18, 19, 21, 23, 25 dan 31.
Baca Juga: Pencipta Pataka Kodam XVI/Pattimura itu Kini Telah Tiada
Dari deretan tanggal-tanggal ini kita dapat melihat bahwa pesawat-pesawat pembom tersebut dipakai bukan saja untuk menggempur landasan pacu Jepang di Wasior melainkan juga lokasi lainnya yang berdekatan. Dimana ada tanggal yang kosong, disitulah pesawat tempur Sekutu itu sedang menggempur landasan pacu atau pertahanan udara Jepang di tempat lainnya.
Ini sesuai dengan strategi Jenderal Arthur MacDouglas yang menggunakan “lompat katak” (leapfrog strategy). Dengan melakukan penyerangan dan penguasaan di suatu lokasi lalu berpindah ratusan kilometer ke lokasi lainnya, ini mengakibatkan pasukan Jepang menjadi kocar-kacir dan tidak siap menghadapi gempuran pesawat tempur Sekutu itu.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



