Hutan, Laut, dan Pangan: Ketahanan yang Tergerus di Negeri Tulehu dan Hutumuri
Tulehu dan Hutumuri, dua negeri adat di Pulau Ambon, berdiri di antara laut yang makin tak ramah dan hutan yang mulai sepi langkah manusia. Di tanah yang dulunya kaya hasil kebun dan laut, perubahan musim dan pola hidup perlahan menggerus ketahanan pangan dan tradisi yang pernah bertahan lintas generasi.
Angin pagi menyapu lembut pesisir Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Beberapa perahu kayu bersandar di antara batu karang, diam di bawah langit yang kelabu. Warga menyebut laut di depan kampung mereka kini sulit ditebak. Kadang tenang sepanjang hari, tapi bisa berubah liar dalam hitungan jam.
“Sekarang ombak bisa datang tiba-tiba,” kata Faisal Lestaluhu, 40 tahun, warga Tulehu, sambil memandangi horison. Ia mengenang masa ketika laut masih menjadi sahabat yang setia.
“Dulu orang tua kami cukup lihat angin dari gunung, sudah tahu laut aman atau tidak. Sekarang, semua berubah,” ujarnya.
Cuaca yang tak menentu membuat nelayan lebih waspada. Mereka menunda melaut, atau bahkan tak berangkat sama sekali. Akibatnya, dapur-dapur yang dulu bergantung pada hasil tangkapan mulai mencari sumber lain. Tapi laut tetap jadi harapan, yang kadang dikecewakan.
Hutan yang Sepi, Jalan Setapak yang Tertutup
Tak jauh dari pesisir, di balik deretan rumah-rumah warga, hamparan kebun kecil masih menyimpan jejak ketahanan pangan masa lalu. Pisang tumbuh di antara keladi dan kasbi (singkong), tapi kebun-kebun itu kini tak seramai dulu.
“Orang sekarang lebih banyak beli daripada tanam,” ujar Faisal yang baru saja menurunkan setandan pisang dari kebunnya. Ujung sarungnya basah terkena rumput dan tanah lembab sisa hujan semalam.
Faisal tetap mengurus kebunnya. Namun, ia tahu tetangganya satu per satu mulai menyerah. Musim yang tak menentu mengacaukan pola tanam. Dulu, hujan berhenti di Juli, dan Agustus jadi waktu ideal untuk mulai menanam. Kini, Oktober pun hujan belum reda dan sering deras.

Pisang-pisang yang dipetiknya pun kini lebih kecil dari biasanya. “Tanahnya terlalu basah. Akarnya nggak kuat. Buahnya jadi kecil-kecil,” katanya. Petani sayur di Tulehu bahkan banyak yang berhenti menanam. Lahan terlalu lembab, tanaman kerap membusuk sebelum panen.
Kebun, yang dulunya jadi lumbung kecil bagi rumah tangga, di negeri yang berpenduduk sekira 28.761 jiwa (data sensus kependudukan 2022) ini, mulai kehilangan tempat dalam perhitungan ekonomi sehari-hari.
Kadir Ohorella, 74 tahun, petani dan pengurus adat di Tulehu, mengenang masa ketika hutan di negerinya menjadi ruang hidup yang terhubung erat dengan warga.
“Di Tulehu lahan hutannya luas. Tapi sekarang beda. Hasilnya masih dimanfaatkan, seperti cengkih dan pala tapi tidak seperti dulu,” katanya. “Anak-anak muda sekarang juga sudah jarang bantu bercocok tanam.”
Dulu, warga memanfaatkan hutan bukan hanya untuk hasil kayu dan buah, tapi juga sebagai tempat berkebun. Namun kini, aktivitas itu makin jarang. “Masyarakat sudah tidak terlalu banyak yang berkebun,” ujarnya pelan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



