AmboinaLingkunganMaluku Tengah

Hutan, Laut, dan Pangan: Ketahanan yang Tergerus di Negeri Tulehu dan Hutumuri

Sebagian warga kini membeli ikan dari pedagang papalele atau penjaja keliling yang membawa hasil tangkapan dari luar kampung. “Kadang orang Hutumuri juga, beli di pasar, lalu dijual di sini,” kata Yohanis Waas.

Musim hujan panjang membuat perahu nelayan lebih lama bersandar. Yohanis tetap berharap ketika langit kembali cerah, laut akan memberi hasil. Ia menyebut kondisi terumbu karang di perairan Hutumuri masih cukup baik. Tapi tidak demikian dengan mangrove.

“Dulu pernah tanam ratusan anakan mangrove,” kenangnya. “Tapi tak satu pun hidup. Sekarang tinggal satu di belakang gereja. Kadang gugur daun, kadang tumbuh lagi.”

Menyimak Alam yang Berubah

Di Tulehu, tak jauh dari labuhan, sungai kecil mengalir pelan ke pantai. Warga biasa mencuci peralatan atau membersihkan ikan di sana. Bagian hilirnya dulu rimbun dengan akar-akar mangrove yang menjuntai ke air, jadi rumah bagi ikan kecil dan kepiting.

Sekarang, pohon-pohon itu tinggal beberapa. Sebagian mati, tergerus abrasi yang datang perlahan. “Kalau ombak besar, air bisa sampai ke jalan,” kata Faisal, menunjuk ke bekas akar yang mencuat dari lumpur. Dulu, hutan mangrove berdiri lebat di sana.

mangrove
Salah satu dari dua pohon mangrove yang ada di Negeri Hutumuri.(Foto: Ezra Noya untuk potretmaluku.id)

Laporan KLHK 2024 mencatat penurunan tutupan mangrove di pesisir Maluku, termasuk Ambon dan Maluku Tengah, akibat abrasi dan alih fungsi lahan. Pemerintah daerah mulai menanam kembali, bekerja sama dengan lembaga adat dan kelompok masyarakat. Upaya kecil untuk menjaga batas yang makin kabur antara darat dan laut.

Karena di pesisir seperti Tulehu dan Hutumuri, garis pantai bukan sekadar batas fisik. Ia adalah ruang hidup, sumber makan, tempat berangkat dan pulang. Tempat cerita-cerita diwariskan dan kini, perlahan memudar.

Senja turun di Tulehu. Kadir Ohorella duduk di depan rumahnya, memandangi laut yang tenang. Tapi ia tahu, di bawah permukaan, arus berubah cepat. Di kejauhan, suara jangkrik mulai terdengar dari kebun yang mulai gelap di Hutumuri.

Antara hutan dan laut, masyarakat di dua negeri ini masih mencoba menggantungkan hidup pada alam yang kini menuntut mereka belajar ulang cara membacanya. Karena ketahanan, dalam wujud paling sederhana, adalah kemampuan untuk mendengar tanda-tanda alam. Dan tetap bertahan, meski dengan cara yang berbeda.(Zairin Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button