Hutan, Laut, dan Pangan: Ketahanan yang Tergerus di Negeri Tulehu dan Hutumuri
Jalan menanjak ke arah Hutumuri, negeri tetangga di Pulau Ambon pada kaki perbukitan, memperlihatkan gambaran serupa. Kabut pagi turun menyelimuti atap rumah dan jalan tanah menuju kebun. Suara burung bercampur dengan angin laut, menjadi latar harmoni yang perlahan kehilangan penabuhnya.
Samuel Kappuw, 31 tahun, aparat desa yang sejak kecil akrab dengan jalur-jalur kebun, menunjukkan jalan setapak yang kini ditutup ilalang. “Dulu ramai. Orang ke hutan atau kebun tiap hari. Sekarang jalan lama sudah tertutup. Kalau mau ke hutan, harus mutar,” katanya.
Di balik semak, hutan negeri masih berdiri, tapi tak lagi seramai dulu. Yohanis Waas, 67 tahun, petani dan pengurus adat Hutumuri, menyebut hutan itu “lumayan besar.” Cengkih, durian, duku, dan langsat masih tumbuh di dalamnya. Tapi tak banyak yang memetik.
“Anak-anak muda sudah banyak yang kerja di kota. Dulu ke kebun itu bagian dari hidup sehari-hari,” ujar Yohanis soal kondisi di negerinya yang punya penduduk sekira 5.086 jiwa ini.
Kini, suara cangkul hanya sesekali terdengar. Kebun dan hutan, tempat warga menggantungkan hidup selama puluhan tahun, mulai dilupakan.
Pangan: Dari Kasbi ke Cok
Di kedua negeri, hasil kebun masih jadi bagian dari konsumsi warga. Tapi tak lagi cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Beras, minyak goreng, hingga bumbu dapur kini dibeli di kios atau pasar.
Harly Leiwaherilla, Ketua Pemuda Hutumuri, mencatat perubahan pola konsumsi sebagai cerminan pergeseran gaya hidup. “Dulu orang makan kasbi, keladi, sagu,” katanya. “Sekarang kalau belum makan nasi, artinya belum makan.”
Jika beras bisa dibeli di kios, tidak demikian dengan bumbu dapur seperti tomat, bawang, atau cabai. “Dulu tanam sendiri. Sekarang, hampir tidak ada,” katanya. Lahan-lahan yang dulu ditanami umbi dan sayur kini dibiarkan kosong, atau beralih fungsi.

Laut pun tak sepenuhnya memberi harapan. Di Tulehu, nelayan tradisional mulai menyerah. Faisal bercerita tentang pamannya, yang dulu saban pagi mendayung ke laut dengan perahu kecil. Kini, ia telah menjual perahunya.
“Sudah tidak memungkinkan lagi melaut hanya dengan perahu dayung,” kata Faisal. Daerah tangkap makin jauh, sementara tenaga dan waktu yang dibutuhkan tak sepadan dengan hasil. Banyak nelayan memilih mundur.
Perahu-perahu kayu itu kini diam di bawah pohon kelapa. Lambungnya lapuk, warnanya memudar. Tradisi melaut yang dulu jadi nadi kampung perlahan menghilang, tergantikan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, meski bukan dari laut.
Di Hutumuri, sebagian warga masih melaut. Ikan momar (layang) dan komu (tongkol) jadi tangkapan utama. Tapi itu pun sangat bergantung musim. Saat angin Timur datang dan gelombang tinggi, nyaris tak ada yang berani ke laut.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



