potretmaluku.id – Hingga akhir minggu pertama bulan Agustus 2021 ini, enam (6) dari 11 kabupaten dan kota di Provinsi Maluku, masih berada pada zona oranye atau resiko sedang pada peta resiko penyebaran Covid-19.
Berdasarkan data yang didapat potretmaluku.id, dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, Jumat (6/8/2021), terkait zonasi wilayah Covid-19 di Provinsi Maluku dengan status 1 Agustus 2021, disebutkan bahwa enam kabupaten yang masih berada di zona oranye itu yakni, Kota Ambon dengan skor 1,89, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dengan skor 1,93, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) dengan skor 2,17.
Kemudian, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dengan skor 2,27, Kabupaten Kepulauan Aru dengan skor 2,15, dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dengan skor 2,53.
Sedangkan lima kabupaten lainnya, yang berada pada zona kuning atau resiko sedang yakni Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) dengan skor 2,41, Kabupaten Buru dengan skor 2,52, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dengan skor 2,56, Kabupaten Buru Selatan (Bursel) dengan skor 2,53 dan Kota Tual 2,44.
Sebelumnya, terkait Kota Ambon yang sebelumnya berada di zona merah (resiko tinggi) beralih ke zona oranye, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy menyebutkan, angka kesembuhan menjadi faktor yang mempengaruhi peningkatan skor di Kota Ambon.
“Itu yang membuat Kota Ambon yang sebelumnya berada pada zona merah (resiko tinggi) pada peta resiko penyebaran covid-19, bisa turun ke zona oranye atau zona sedang,” ujar Wendy kepada wartawan di Balai Kota Ambon, Rabu (4/8/2021).
Dia katakan, ini karena Kota Ambon mengalami peningkatan skor 0,16 poin dari skor sebelumnya. Sebelumnya, skor Kota Ambon berada di angka 1,73, dan berada pada zona merah atau resiko tinggi. Namun minggu ini mengalami kenaikan menjadi 1,89 dan sudah berada di zona oranye atau resiko sedang.
Tapi walaupun sudah kembali ke zona oranye, Wendy mengingatkan, bahwa kenaikan skor Kota Ambon ini belum signifikan, dan masih bisa bergerak dinamis, di antara zona oranye dan zona merah.
“Penyebab skor Kota Ambon tidak meningkat signifikan, karena positivity rate yang masih tinggi yakni 31,5 persen. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Positivity Rate mesti di bawah 5 persen,” tuturnya.
Untuk menurunkan positivity rate, Wendy menyebutkan, harus memperkuat pada proses 3T atau Tracing, Testing dan Treatment. Sebab itu, kata dia, merupakan inti pengendalian pandemi, selain protokol kesehatan (Prokes) dan vaksinasi.
“Diharapkan masyarakat mematuhi Prokes. Karena Prokes ini untuk melindungi diri dari penyebaran virus. Terlebih lagi, Prokes bukan untuk menjaga diri sendiri saja tapi juga menjaga keluarga dari penyebaran virus corona,” pungkasnya.(WEH)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



