Pendapat

D’Baji Cafe Malino, Konflik Poso dan Ambon, Serta Artis Ibu Kota

PENDAPAT

Rumah induk dari kafe ini, merupakan kediaman H Abd Rauf Daeng Nompo Karaeng Parigi, seorang tokoh pejuang, yang pernah mengemban amanah sebagai Camat Tinggimoncong, selama 32 tahun.

Hampir semua rumah yang dibangun di sini, pada awal Malino dibuka–mulai 1927 hingga 1960an–punya nama. Rumah yang menjadi tempat kafe ini, dahulu dikenal dengan nama Rampe ri Baji’. Makanya sekarang diberi nama D’Baji Cafe.

Nama-nama rumah pada kurun waktu itu, antara lain Balla ri Moncong, U’rangi Tongki , Reso resoku, Balla Caddia, Balla Tinggia, Lantang Cinikang, dan Balla Kalokko. Rumah-rumah tersebut, selain sebagai tempat tinggal, ada pula yang difungsikan sebagai villa yang disewakan pada Sabtu-Minggu atau waktu tertentu. 

Cerita ini menandakan bahwa Malino sejak dahulu sudah jadi tempat wisata yang menarik. Bahkan pada zaman kolonial Belanda, Malino yang dibangun oleh Gubernur Celebes, LJJ Caron, tahun 1927, sudah jadi tempat peristirahatan bagi kalangan pembesar Belanda, kala itu.

D’Baji Cafe berdiri tepat di pintu masuk Kota Malino, pertigaan poros Makassar-Sinjai-Pasanggarahan, diapit oleh Hotel Celebes Malino dan Riung Gunung, rumah makan terbesar di Malino. 

Kalau kita berada di teras, duduk sambil menyeruput kopi gula aren dan menikmati pisang goreng, arah ke kiri dari kafe merupakan Jalan Mappatangka poros Sungguminasa, ke kanan Jalan Sultan Hasanuddin poros ke Sinjai, sementara ke atas Jalan Waspada arah Jalan R. Endang yang menuju kawasan wisata hutan pinus.

Berada di teras terbuka itu, mata kita leluasa menghadap ke jalan raya, menyaksikan aktivitas warga yang lalu lalang. Bila sore, menjelang matahari terbenam di barat, angin terasa dingin di kulit. Pada saat tertentu, antara pukul 15.00-17.00, kabut turun menyelimuti sekitar kafe seolah hendak mampir bercengkerama dengan mereka di sana.

Konsep penataan kafe ini dirancang bagai ruang keluarga yang hangat. Interiornya menampilkan bambu sebagai pelengkap. Foto-foto jadul dari keluarga kami, sebagai pemilik kafe, seolah berkisah tentang Malino tempo doeloe.

Juga dipajang beberapa alat musik tradisional yang setiap saat bisa difungsikan. Kebetulan kami juga penggiat seni budaya, yang sangat menjunjung kearifan lokal sehingga kafe ini ada sentuhan tradisionalnya.

Menu yang disajikan disesuaikan dengan selera konsumen. Kopi D’Baji merupakan sajian khasnya, yakni kopi hitam dengan serutan gula aren, kopi lokal asli robusta di mix dengan Arabika. Ada pula kopi susu, teh, dan minuman kekinian berupa green tea, thai tea, coklat, moccacino, cappuccino, dan special drink sarabba.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button