Pendapat

Watui, Data, dan Sebuah Kapal Bernama Harapan

PENDAPAT

Gubernur Lewerissa secara khusus menyoroti pendidikan. Itu artinya, anak-anak di daerah terpencil kini berkesempatan belajar coding, menjelajah peta digital, bahkan menonton kuliah dari universitas dunia.

Dengan begitu, akses internet bagi sekolah, misalnya di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, atau di Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, bisa membuka dunia.

Dari pusat, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberi sinyal dukungan. “AI tak akan menggantikan manusia. Tapi manusia yang tak memakai AI akan tertinggal,” katanya dalam acara di Binus University, BSD, Jumat lalu. Ia mencontohkan sekolah di Tangerang Selatan yang berhasil membuat robot pembersih terumbu karang dan menang lomba robotik.

Pemerintah pusat telah menyiapkan kurikulum AI untuk diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, dari SD hingga SMK. Ini langkah monumental, tapi juga menjadi ujian besar bagi Maluku: bagaimana memastikan anak-anak di Kepulauan Aru dan Kepulauan Tanimbar tak ketinggalan dari teman-temannya di kota besar?

Sejarah Memberi Pelajaran: Kisah Kalulis di Teluk Ambon

Tahun 1996, seorang penjelajah asal Inggris, Tim Severin, berlayar melintasi kepulauan rempah dengan sebuah kapal kayu bernama Kalulis, replika perahu tradisional Kepulauan Kei sepanjang 14 meter. Ia menelusuri jejak naturalis Alfred Russel Wallace dalam ekspedisi bertajuk The Spice Islands Voyage. Kapal kecil itu dilengkapi sistem komunikasi satelit, generator angin, dan motor darurat berkekuatan sembilan tenaga kuda.

Jauh sebelum era Zoom dan Google Meet, Severin sudah menghubungkan Ambon dengan dunia. Dari atas Kalulis, dari indahnya Teluk Ambon ketika itu, ia memperkenalkan keindahan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia kepada pelajar dan mahasiswa di negaranya melalui teknologi komunikasi jarak jauh. Teknologi, bagi Severin, adalah jendela ke dunia. Bukan sekadar alat, tapi jembatan antara ruang, waktu, dan peradaban.

Di masa depan yang semakin dekat, kita bisa membayangkan Mei Rumahsoal tak lagi ditandu. Sistem telemedisin berbasis AI akan memantau kondisinya. Bidan desa bisa menggunakan aplikasi diagnosa sederhana. Jika darurat, drone akan terbang membawa obat.

Smart farming akan memberi notifikasi kapan harus menyiram. Anak muda di Kota Tual sudah terbiasa bisa terhubung dengan klien di Jakarta lewat platform freelance. Chatbot pariwisata bisa memandu wisatawan menelusuri Kepulauan Kei. Dunia ada dalam genggaman, jika jaringannya terpasang.

Tapi semua ini hanya mungkin jika pembangunan digital berpijak pada manusia, bukan sekadar teknologi. Karena di balik setiap kabel yang ditanam dan data yang dikumpulkan, ada wajah-wajah yang menunggu perubahan.

Ketika kita bicara tentang data, jangan bayangkan hanya grafik dan dashboard. Bayangkan anak yang berjalan 5 kilometer ke sekolah. Bayangkan nelayan yang menatap langit sebelum berlayar. Bayangkan seorang ibu, ditandu menembus hutan, menanti pertolongan yang tak kunjung datang karena sinyal tak pernah tiba.

Transformasi digital adalah soal keberpihakan. Kita bisa membiarkannya memperlebar jurang, atau menjadikannya jembatan menuju keadilan sosial. Maluku sudah melangkah. Pelan, tapi pasti. Karena di timur sana, kabel-kabel tak hanya membawa internet, tapi juga harapan.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button