Pendapat

Watui, Data, dan Sebuah Kapal Bernama Harapan

PENDAPAT

“Kalau data bisa bicara, ia bisa menyelamatkan hidup,” ujar seorang sahabat ketika kami bicara isu ini. Mungkin yang ia maksud bukan grafik di layar komputer melainkan wajah-wajah seperti Mei Rumahsoal yang selama ini tak pernah tercatat.

Desember 2022 menjadi titik mula perubahan. Jaringan Intra Pemerintah Daerah (JIPD) resmi diluncurkan. Tanpa selebrasi besar, tapi bagi mereka yang paham, inilah jalan tol digital di tengah belantara birokrasi.

Jalan Tol Digital yang Tak Tampak

Pada 2 Mei 2025, persis di Hari Pendidikan Nasional, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa memanggil dua pemain besar: Telkom dan Telkomsel. Ia tak bicara soal profit. Ia bicara tentang sekolah-sekolah tanpa sinyal, desa-desa yang tertinggal, dan tanggung jawab korporasi untuk hadir bukan hanya sebagai penyedia jasa, tapi juga agen pembangunan. Maluku, katanya, masih memiliki banyak titik hening seperti Watui yang menunggu disapa teknologi.

Telkomsel pun memaparkan solusi konkret: digitalisasi sekolah, internet desa, digitalisasi RT dan BUMDes, hingga akses bagi koperasi dan pelaku UMKM. Semua dirancang dalam bingkai besar menuju pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan inklusif secara digital.

Namun transformasi digital tak selalu halus. Di lapangan, ia berbenturan dengan realitas sosial dan kultural. Jaringan tak selalu tersedia. Literasi digital tak merata. “Orang tua di desa saya percaya pada laut dan langit, bukan aplikasi cuaca,” kata seorang pemuda dari Banda. “Tapi sekarang saya mulai ajarkan mereka pelan-pelan. Butuh waktu.”

Kendala lain adalah political will. Tanpa kemauan kuat dari para pemimpin, teknologi hanya menjadi pajangan dashboard indah tapi tak menyentuh kehidupan nyata.

Padahal, potensi besar terbentang. Bayangkan sistem berbasis AI yang bisa memindai ribuan data tenaga kerja: usia, lokasi, keterampilan, rekam pelatihan. Dalam hitungan menit, sistem bisa memberikan rekomendasi pelatihan, penempatan kerja, bahkan prediksi permintaan tenaga di masa depan.

Ketika Mesin Tidak Lagi Asing

Hari ini, mesin mulai memahami manusia. Bayangkan sebuah sistem yang mampu membaca ribuan data tenaga kerja: keterampilan, usia, lokasi, rekam pelatihan.

Dalam hitungan menit, AI menyusun strategi pelatihan dan penempatan kerja. Apa yang dulunya memakan bulan-bulan, kini bisa dilakukan dalam satu klik.

AI bahkan bisa memprediksi badai dan memperingatkan nelayan agar tidak melaut. Ia bisa mendeteksi gejala wabah sebelum rumah sakit penuh. Ia bisa memberi tahu petani kapan menanam dan kapan panen, hanya melalui ponsel sederhana.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button