Pendapat

Watui, Data, dan Sebuah Kapal Bernama Harapan

PENDAPAT

Watui tidak punya sinyal. Tapi mereka punya mimpi.

Suatu sore yang mendung di Desa Watui, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, Mei Rumahsoal, seorang ibu muda, ditandu warga menembus hutan dan menyeberangi sungai kecil. Ia tengah kontraksi.

Puskesmas terdekat berjarak lima jam perjalanan. Tak ada ambulans, tak ada sinyal telepon. Hanya langkah kaki yang terburu-buru, peluh yang mengalir deras, dan seutas doa yang mereka sematkan sepanjang jalan.

Ada pula kisah seorang ibu hamil di Desa Afang Kota, Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), yang harus menempuh perjalanan sejauh empat kilometer menggunakan gerobak untuk mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kilmury.

Di tempat lain, jauh dari Elpaputih dan Kilmury, jauh dari rimbunnya hutan dan derasnya sungai kecil itu, para teknokrat dan pengambil kebijakan duduk dalam ruang ber-AC. Mereka bicara tentang masa depan tentang jaringan data, digitalisasi, dan kecerdasan buatan.

Ketika Data Menyentuh Bumi

Satu dunia membicarakan kabel dan dashboard. Dunia lainnya sedang berjuang mempertahankan dua nyawa: Mei dan bayinya. Apakah suatu hari, mereka bisa dipertemukan? Pertanyaannya sederhana, tapi menggugah: mungkinkah suatu hari nanti, Mei tak perlu lagi ditandu?

Data kini menjadi denyut nadi pembangunan. Di Maluku, gugusan surga di timur Indonesia, transformasi digital bukan semata urusan kemajuan teknologi, tapi juga tentang siapa yang tertinggal dan siapa yang berhak melompat. Di provinsi kepulauan ini, internet dan sinyal bukan sekadar fasilitas, melainkan harapan akan kesetaraan.

Namun alih-alih bicara soal internet, beberapa desa di Kepulauan Maluku belum teraliri listrik. Kalau pun sudah ada internet, seperti di kecamatan lain yang sampai ke Kilmury, lantas bagaimana dengan daya batrei. Harapannya tentu mereka akan tetap bisa menikmati internet. Kehadiran sumber listrik untuk menyalakan perangkat keras semacam HP atau komputer, tentu sangat dibutuhkan untuk dapat mengakses internet.

Beberapa tahun lalu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Maluku memulai langkah ambisius: menyambungkan pulau-pulau melalui data.

Melalui kebijakan Satu Data Indonesia, pemerintah mencoba menenun sistem informasi lintas instansi agar tak lagi ada kebijakan yang dibuat atas dasar asumsi.

Desember 2022 menjadi tonggak penting ketika Maluku meluncurkan Jaringan Intra Pemerintah Daerah (JIPD)jalan tol data di tengah hutan administrasi.

Beberapa tahun lalu, Dinas Komunikasi dan Informatika Maluku tengah mengusung satu visi besar: menenun Maluku ke dalam jejaring nasional melalui kebijakan Satu Data Indonesia.

Di balik istilah teknokratik itu, ada misi sunyi yang menyala: menyelamatkan nyawa, membuka akses, dan menjadikan data sebagai jantung pengambilan keputusan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button