Pendapat

Untuk Ade Maudy dan Ade Arief Abbas

PENDAPAT

Ade Maudy. Selamat untuk lulus dari Stanford University. Luar biasa bisa lulus dari salah satu kampus terbaik di dunia. Ikut senang juga karena Ade Maudy pakai batik. Terimakasih. Indonesia sedang ramai bahas Ade Maudy dan kisah menaklukan Palo Alto.

Ade Maudy, beta baru saja baca cerita dari Ade Arief. Teman, mungkin sebaya, Ade Maudy yang berjuang untuk bisa sekolah pascasarjana. Ade Maudy sudah lulus dari Stanford University, Palo Alto. Ade Arief akan lulus dari Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kalian berdua akan sama-sama menjadi tulang punggung Indonesia.

Ade Maudy dan Ade Arief punya cerita berbeda. Mungkin Ade Maudy bisa luangkan waktu sedikit baca tulisan Kaka ini. Kaka hanya berbagi perspektif bagaimana orang seperti Ade Arief, dan banyak teman sebaya Ade Maudy di Indonesia Timur berjuang untuk bisa sekolah lebih tinggi.

Ade Maudy lulus dari salah satu universitas terbesar dunia, dengan biaya pemerintah Indonesia. Ade Maudy nyaris tidak mengalami masalah apapun: Bahasa Inggris sudah siap karena sejak kecil Ade Maudy sudah belajar di sekolah-sekolah internasional. Jejaring juga tidak masalah karena Ade Maudy adalah artis papan atas Indonesia. Uang untuk melanjutkan kuliah tinggal klik dan transfer. Ade Maudy adalah anak Ibu Kota yang dikeliling oleh fasilitas terbaik di Indonesia. Jadi, sejak awal, beta tidak ragu Ade Maudy akan menaklukan Palo Alto.

Ade Arief punya niat besar untuk sekolah, tetapi tidak seberutung Ade Maudy. Waktu mau sekolah Mamanya sakit. Uang untuk belajar Bahasa Inggris harus dipakai untuk Mamanya berobat. Simpangan antara belajar dan kebutuhan keluarga, sering jadi titik pilih yang sulit bagi Ade Arief dan banyak teman di Indonesia Timur.

Kitorang (kami) miskin bukan karena tidak ada sumber daya Ade Maudy. Kitorang miskin karena pemerintah selama sekian dasawarsa hanya memusatkan pembangunan di bagian barat. Kitorang miskin karena penguasa meminggirkan daerah ini Ade Maudy. Jerat-jerat kemiskinan ini membunuh banyak mimpi teman sebayamu di Indonesia Timur, Ade Maudy. Jangankan Stanford, Univeritas Pattimura (Unpatti), Universitas Cendrawasih (Uncen), Universitas Cendana (Undana), Universitas Sam ratullangi (Unstrat), Universitas Hasanudin (Unhas), mungkin sulit bagi dorang (mereka) Ade Maudy.

Belum lagi kalau kitorang bicara kualitas pendidikan Ade Maudy. Kitorang di Indonesia Timur Ade Maudy, punya Guru Bahasa Inggris bagus saja sudah mujizat. Banyak dari kitorang termasuk beta dan Ade Arief, baru belajar Bahasa Inggris setelah menginjakkan kaki di pintu sekolah menengah pertama (SMP).

Ade Maudy, waktu pertama belajar di SMP guru baca ABC yang beda dengan bacaan Indonesia kita tertawa. Sungguh Ade Maudy. Bahasa Inggris itu asing bagi kita. Beda sama Ade Maudy yang sejak lahir mungkin sudah terbiasa pakai Bahasa Inggris. Ade juga besar di Ibu Kota dengan semua fasilitas yang ada. Orang bisa pakai Bahasa Inggris di mana-mana. Bahasa Inggris mungkin sudah jadi bahasa kedua atau bahkan bahasa pertama.

Bagi Arief dan beta, juga banyak sahabat di Indonesia Timur, kitorang pakai Bahasa Daerah, Malayu Pasar, Bahasa Indonesia, Baru Bahasa Inggris. Jadi Bahasa Inggris itu Bahasa Keempat kitorang Ade Maudy. Itu sebabnya Ade Maudy, Ade Arief harus belajar Bahasa Inggris sampai hanya punya waktu tidur tiga (3) jam sehari. Supaya bisa dapat beasiswa itu yang Ade Arief lakukan.

Ade Arief juga masih beruntung karena bisa masuk CRCS UGM, program berbahasa Inggris yang baru saja dapat sertifikat ASEAN University Network dengan nilai “Almost Perfect.” Ade Maudy, ada banyak teman di Indonesia Timur yang tidak bisa sekolah, meski mimpi besar. Bahasa Inggris tidak berpihak pada dorang, meskipun beta tahu dorang bisa berpikir luar biasa dalam Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia. Kalau saja dorang punya kemampuan Bahasa Inggris, Ade Maudy, Stanford juga bisa ditaklukan.

Ade Arief sedang menaklukan bagiannya. Tesisnya di CRCS UGM sedang dia rampungkan. Kebetulan beta jadi dosennya di CRCS. Bahasa Inggris Ade Arief berkembang sangat luar biasa Ade Maudy. Beta selalu menanti komentarnya di dalam kelas. Beta menyaksikan bagaimana pengorbanannya membuat dia dapat berdiskusi dengan mahasiswa lain di CRCS, yang datang dari berbagai negara. Pakai Bahasa Inggris loh Ade Maudy.

Ade Maudy, teman-teman seperti Ade Arief ini beta yakin akan berhasil dengan keringat dan air mata sendiri. Kalau satu waktu orang seperti Ade Arief bisa belajar di Stanford, Harvard, Oxford, ANU, Berkeley, Yale, you name it, itu keberhasilan yang hakiki. Ade Maudy, torang ikut bangga untuk kelulusanmu. Ini hanya curhat saja tentang kitorang pe pergumulan di Indonesia Timur.

Ade Arief, Kaka berdoa pa ngana. Jang hanya CRCS saja, ngana taklukan Palo Alto, Cambridge MA, New Haven, Oxford, Canberra dan kota-kota studi itu, supaya banyak ade-ade di Indonesia Timur dan di pinggiran rasa, “torang juga bisa karena ada Kaka yang bisa.”

IMG 20210303 WA0039

Penulis: Izak YM Lattu
Pemerhati sosial budaya dan dosen pada Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan Dewan Redaksi potretmaluku.id.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button