CitizenPendapat

Perempuan Nusa Ina itu Membuat Beta Berlinang Air Mata

PENDAPAT

Oleh: Stevin Melay (Ketua Program Studi Pendidikan Biologi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univeritas Pattimura)


Pagi tadi beta tiba di kampus pukul. 08.32 WIT. Seperti biasa, setiap hari Senin, pagi-pagi sudah berada di kampus, untuk menyiapkan catatan laporan rutin mingguan kegiatan di Program Studi. Laporan ini akan beta sampaikan pada pimpinan fakultas, saat apel virtual pukul. 09.00 Wit.

Apel kali ini dipimpin oleh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa. Saat apel sementara berlangsung, nampak di depan pintu ruang kerja beta, beberapa mahasiswa sedang berdiri, sambil sesekali menengok ke dalam ruangan lewat kotak kaca kecil berukuran 15 x 30 cm di pintu ruangan. Kotak kaca itu memang sengaja dibuat, agar mudah mahasiswa dengan mudah bisa melihat beta di dalam ruangan dan sebaliknya.

Ternyata ada empat mahasiswi yang sementara menunggu beta, untuk memberikan aba-aba dengan cara melambaikan tangan, sebagai tanda menyuruh mereka masuk. Begitu tiba di penghujung apel virtual, beta lalu memberikan tanda kepada mereka untuk masuk ke ruangan.

Mahasiswi pertama asalnya dari Buru Selatan. Dia angkatan 2017. Kepentingan pagi hari menghadap beta untuk mendengar solusi yang diambil kepadanya, setelah beta berkonsultasi dengan beberapa pihak terkait, untuk menyelesaikan kasusnya.

Jujur, mahasiswi ini sempat membuat beta sedikit emosi saat minggu kemarin dia bersama saudaranya datang untuk menyampaikan masalahnya. Dia teridentifikasi tidak menawarkan mata kuliah selama empat (4) semester berturut-turut. Padahal yang bersangkutan membayar Uang Kuliah Tungga (UKT).

Wajar saja beta emosi. Sebab ketika dicek apa penyebabnya, dia hanya terdiam. Ditambah lagi dia anak seorang janda miskin, yang bersusah payah membayar UKT anaknya sebesar Rp.12 juta selama dua (2) tahun. Tapi dia tidak kuliah sedikitpun. Oh Tuhan, rasa-ras mau banting itu anak saja.

Mahasiswi yang kedua punya tujuan lain, yakni mengkonfirmasi persetujuan beta, agar yang bersangkutan bisa menawarkan mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Untuk kepentingan ini, beta terpaksa tidak menyetujuinya, disebabkan jumlah Satuan Kredit Semester(SKS) mahasiswa tersebut belum memenuhi ketentuan minimum, sebagaimana Peraturan Akademik. Termasuk masih banyak mata kuliah yang belum ditawarkan, karena dia adalah mahasiswa pindahan.

Namun untuk tidak membuat kecewa mahasiswa ini, beta memberikan beberapa penjelasan alternatif sebagai solusi taktis, untuk bisa mendorong yang bersangkutan menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Setelah mendengar penjelasan beta, mahasiswi yang kedua ini pun keluar.

Selanjutnya perempuan mungil asal Negeri Manusela puncak Nusa Ina, Pulau Seram ini mengambil posisi duduk berhadapan dengan beta. Bagaimana Nona? Itu pertanyaan pembuka beta ke Nona ini. Bapa, saya mau datang pamit untuk pulang kampung. Sekaligus saya mau datang ucapkan terima kasih ke bapa. Karena bapa, impian saya akan tercapai.

Maksudnya Ade? Bapa, saya lulus Kampus Mengajar dan saya dapat sesuai dengan pilihan saya di kampung sendiri bapa, SD YPPK Manusela. Bapa, saya tadi sudah packing barang-barang untuk pagi ini dengan teman-teman yang juga dapat di Kabupaten Maluku Tengah berangkat ke Masohi. Tapi saya bilang ke reman-teman di tempat tinggal, kalau saya harus ketemu bapa, untuk pamit dan ucapkan terima kasih.

Mereka tanya bapa siapa? Saya bilang Kaprodi (Ketua Program Studi) saya. Beliau itu orang tua saya di kampus, selain juga mentor. Saya bilang ke mereka, bahwa karena bapa, kami bisa lolos seleksi. Saya bilang buat mereka, karena bapa dosen yang sangat baik, dan selalu mendorong mahasiwa untuk maju pantang menyerah.

Saya bilang kepada mereka, karena bapa, saya bisa ikut seleksi Kampus Mengajar bersama teman-teman. Bapa yang urus semua surat-surat kami. Dan kami hanya tinggal daftar untuk ikut seleksi. Jadi saya wajib datang ke bapa, untuk mengucapkan terima kasih (air mata bapa pun mulai menetes).

Bapa, saya bersuka cita sekali. Saya sudah tiga tahun tidak pulang ke kampung. Saya mau pulang ke sana bapa, untuk belajarkan adik-adik yang sudah setahun lebih tidak sekolah. Bapa, Saya juga harus pulang untuk ajak dik-adik, supaya harus kuliah.

Saya dengar kabar di sana kalau belakangan ini adik-adik yang lulus SD, mereka langsung kawin bapa. Saya tidak mau itu terjadi buat yang berikut-berikutnya, bapa (bapa pung air mata su mulai hener).

Saya mau bilang buat mereka bapa, kalau di kota sini banyak bangunan-bangunan tingkat (bapa su ambil tisu). Bapa dorang harus nikmati kota dan bersekolah sama dengan saya, bapa (bapa su seng kuat tahan manangis).

Jadi bapa, terima kasih untuk dukungannya buat saya. Saya bangga punya dosen-dosen yang baik-baik bapa. Labe khusus bapa, yang setiap saat dorong kita harus serius ikut seleksi Kampus Mengajar (bapa cabut tisu tambah, karena hener seng bisa bilang lai).

Bapa, saya pamit ya. Mohon maaf bapa, kalau nanti di sana saya tidak bisa kabar-kabari bapa. Karena kalau ke kampung yang ada sinyal, saya harus berjalan satu hari bapa. Sekali lagi bapa, terima kasih banyak-banyak. Impian saya akan tercapai (bapa akhirnya hek hek dan hek).

Baik Ade, sukses ya. Tolong lakukan yang terbaik untuk adik-adik di sana, supaya dong bisa dapat hal yang baru dan motivasi yang tinggi dari Ade. Baik bapa, saya pamit. Selamat bekerja bapa (dia keluar, dan bapa pun melanjutkan isakan tangis yang disaksikan mahasiswi keempat, yang sempat mengabadikan moment tadi).

Tuhan, jaga dia dalam perjalanan menuju negeri tercintanya, untuk menemui ade-adenya. Cita-cita dan impian mulianya menjadikan semangat baru bagi beta. Ade Wilsa Lilihata, beta bangga punya mahasiswi seperti ale. Oh Tuhan berkati doa. Amin.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Komentar

  1. Terenyuh membaca kisahnya…. Saluut Pa Dosen.
    Dosen seharusnya dapat mengambil peran sebagai “orang tua ke-2” bagi mahasiswanya: menjadi motivator, inspirator, dan mampu meberikan solusi bagi mahasiswa dalam menggapai mimpinya.

  2. Kejadian yang terjadi yang dituturkan bapak dosen memang sangat unik dan susah didapatkan pada mahasiswa sehingga dalam menanamkan ilmu kepada mahasiswa jangan hanya kognetif atau psikomotor saja tapi afeksi juga sangat penting apa lagi kedepan mahasiswa selesai pendidian mereka akan berhadapan dengan anak2 yang pubya karakter dan latar belakang berbeda2 sehingga afeksi dalam hal ini kematangan emosional arus sudah dibentuk selama mengikuti pendidian diperguruan tinggi. Dari ceruta ini juga sebenarnya dapat membuka mata pemerintah dan kita bahwa ada 1 wilayah di daerah maluku tengah yang sangat tertinggal dan terperosok pendidikan, hal ini sangat tidak adil karena tidak sesuai dengan UUD 1945 tentang mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga cerita ini dapat dilihat oleh pemerintah daerah Maluku Tengah untuk menyelesaikan masalah2 yang telah dituturkan oleh nona dari Manusela ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button