Pendapat

Dian Mawene – Lattu Alumni SMA Negeri 1 TNS Waipia Maluku Tengah yang Kini Profesor Universitas New Hampshire

PENDAPAT

Tahun 2002 – 2003 setelah diwisuda dari Center for Religious dan Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gaah Mada (UGM), saya hampir kembali bekerja di Ambon. Memang Harian Umum Kompas Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, sudah menerima saya waktu itu. UKSW menjawab lamaran lebih cepat 10 menit dari telpon HRD Kompas. Keinginan berkerja di Maluku tetap ada meskipun Surat Kabar terbesar di Indonesia dan almamater menerima saya.

Selain nasihat dari orang tua saya dan pikiran dari orang tua akademik-teladan di Salatiga, Bu Empi Welem Mawene dan Kakak saya tertua, dan Usi Merry Berhitu, Kaka ipar saya, orang tua dari Dian Mawene-Lattu berusaha meyakinkan saya untuk berkerja di Salatiga saja.

“Bapa-Mama bangga nyong lulus tes di Kompas, tetapi tidak bahagia. Kami ingin nyong jadi Pendeta,” begitu kata Bapa-Mama. “Di sini (Salatiga) saja. Kalau mau jadi Doktor di sini saja. Kami perlu alumni untuk mengabdi di sini (UKSW),” kata orang tua akademik di rumahnya suatu sore. “Bekerja di Salatiga saja. Ale pung anak-anak ini bisa sekolah di UKSW nanti kalau ada Om di sana,” kata Kaka yang sejak kecil memang sangat dekat dengan saya itu.

Alhasil, ponakan saya Dian berangkat ke Salatiga bulan Juli 2004. Anak kecil yang sering saya tunggui sambil baca buku di samping tempat tidurnya itu. Sekarang jadi mahasiswa. Dengan koper biru, sampai sekarang masih ada, saya dan Dian berangkat dari rumah Kaka De Desy Lattu menuju Bandara Pattimura Ambon. “Kaka belajar yang baik yah. Buktikan bahwa sekolah SMA di kebun pisang-pun bisa bersaing jika mau,” begitu pesan saya waktu kami mulai duduk di pesawat. Perjalanan ke Salatiga adalah kali pertama Dian terbang dengan pesawat.

Fakultas Bahasa Dan Sastra (sekarang Seni) UKSW memang terkenal dengan Progdi Bahasa Inggrisnya. Salah satu yang terbaik di Indonesia, menurut saya. “We never say that we are the best, others do,” begitu kata slogan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra (JPBS) waktu saya baru masuk UKSW tahun 1994.

“Ponakan masuk FBS? Wah berat itu. Dia harus kerja keras,” begitu kata salah satu senior di kampus. Memang berat belajar Bahasa Inggris di UKSW. “Standarnya sangat tinggi. Tapi dia pasti bisa,” kata Om Nico Likumahuwa menyemangati saya untuk tetap memotivasi Dian masuk FBS.

Semester pertama di UKSW dia sempat menangis. “Berat sekali kuliahnya Om,” air mata meleleh sepanjang ngobrol dengan saya pada akhir semester. Dari SMA Negeri 1 TNS Waipia, sekolah di pinggiran Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, dia harus kuliah di FBS dan bahasa pengantar adalah Bahasa Inggris. IPK semester pertama dua lebih sedikit. Sambil bercucuran air mata, dia minta maaf dan berjanji akan lebih baik.

Semester berikut IPK Dian mulai naik. “Sekarang bisa mulai aktif di organisasi mahasiswa,” kata saya mencoba membuka ruang lain bagi dia. Tidak terlalu aktif, tetapi cukup memberikan dia pengalaman bekerja dengan orang lain. Dia mulai terbiasa dengan teori-teori sastra dan critical theory. Mbak Purwanti Kusumaningtyas adalah salah satu dosen yang menurutnya berjasa memperkenalkan cara kritis membaca fenomena dengan teori-teori anti-dominasi.

Karena tertarik pada diskursus keadilan dan anti-dominasi, tugas akhir S1-nya justru tidak bicara langsung tentang pendifikan tetapi tentang tubuh perempuan dan eksploitasi media. “Om muat tulisan Kaka di jurnal yah,” saya tawari supaya dimuat di jurnal, saking menarik tulisan itu. Belum ada keharusan menerbitkan tulisan di jurnal waktu itu.

Setelah lulus, dia bekerja di English First Magelang. Bolak-balik Salatiga-Magelang setiap minggu. Ketertarikan dia pada dunia pendidikan membuat dia betah mengajar di lembaga kursus Bahasa Inggris itu. “Pengalaman menarik ketika mengajar anak orang kaya,” dia sering cerita tentang pengalamannya.

Dia memang sangat tertarik pada pendidikan. Dian sempat membantu Ka Ferry Karwur dan tim untuk membangun Keperawatan UKSW. Bersama Tesa Messakh, Dian ikut membangun banyak kerjasama internasional dan internasionalisasi Keperawatan UKSW.

Tahun 2009-2010 ketika saya sedang bolak balik Salatiga-Jakarta untuk seleksi beasiswa Fulbright, saya liat brosur, ternyata program ini memiliki Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) – program mengajar Bahasa Indonesia selama satu tahun di Amerika. Dian pasti sudah tahu karena FBS UKSW sering disebut home of Fulbright FLTA scholars. Kurang lebih 30 orang alumni atau dosen FBS UKSW telah menjadi FLTA scholar. “Kaka, coba FLTA. Kayaknya menarik ini,” kata saya sambil menunjukkan brosur Fulbright padanya.

Tahun 2011 ketika saya, Retno dan Jessica sudah berada di Berkeley, California, Dian mengabarkan dia lulus seleksi FLTA. “Om beta lulus FLTA. Ditempatkan di The University of Wisconsin-Madison. Berarti Winter 2011 bisa Natal di Berkeley,” katanya gembira waktu saya telpon. Tahun 2011 bersama Jesse Ugha, Dian merayakan Natal bersama kami, Tante Nona Dukabain Tunliu, Oma Tiwa Rotinsulu, Om Balti B. Peter Maspaitella, Oma Ice, Om Arthur, Om Mike Michael Walter Sopacua-Tante Novi dan semua keluarga besar Bay Area.

Usaha kerasnya selama belajar FLTA mengantarnya memperoleh beasiswa dari UW-Madison. Beasiswa ini diperoleh sambil mengajar Bahasa Indonesia di kampus 20 besar dunia itu. Performa luar biasanya membuat mentornya dari UW-Madison menawarkan dia beasiswa PhD di universitas itu. Publikasi artikel pada jurnal-jurnal terkenal mulai muncul, dikutip professor besar di Special Education Program. Dian rajin memresentasikan penelitian di conference-conference besar bidang pendidikan aras dunia.

Beberapa kampus lain menawarkan interview padanya, antara lain, University of Hartford. Dian menolak melanjutkan interview akhir dengan Hartford karena terlanjur jatuh hati pada UNH. “Mengapa ambil UNH Kaka? Mengapa bukan Hartford,” tanya saya. “UNH research university Om. Kalau Hartford hanya teaching univesity. Beta lebih suka research university. Katong bisa berkembang,” jelasnya. Setelah mengurus banyak hal, dan berdiskusi dengan Rahul Chatterjee, belahan jiwanya yang sekarang menjadi Professor IT di UW-Madison, menyangkut professorshipnya ini, dia akhirnya menerima UNH.

Anak kecil yang sering saya, waktu itu masih SMP, membaca buku sambil menjaganya tidur itu sekarang menjadi Professor Departement of Special Education, College of Liberal Arts di University of New Hampshire, universitas papan atas di Amerika Serikat.

Opa must be so proud up there. Opa always say, “jang lupa sombayang voor Tetemanis, rendah hati, hormat samua orang deng sayang orang sudara.”

Thank you Kaka for making us so proud.

Penulis: Izak YM Lattu
Pemerhati sosial budaya dan dosen pada Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan Dewan Redaksi potretmaluku.id.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button