
Jejak Terserak Islam di Babo
Penamaan suatu lokasi atau tempat, biasanya karena suatu peristiwa yang terjadi di tempat itu atau banyaknya tanaman endemik (flora) serta fauna.
Nama Istanbul (Konstantinopel) membuktikan hal tersebut. Begitu juga nama Makkah dan Madinah serta Jeddah. Beberapa nama lokasi juga telah mengalami perubahan, baik oleh karena pelafalan atau penggantian.
Nama Babo, merupakan contohnya. Menurut bahasa lokal, Babo berasal dari kata “babo obar” yang memiliki arti berlabuh dan siap berangkat. Di dalamnya terkandung pengertian akan suatu penantian.
“Penantian akan datangnya penyebar Islam kesini,” ujar Jumat Manuama, salah seorang narasumber yang dituakan dalam membahas sejarah Babo dan perkembangan agama disana.
Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna
Ini tidak mengherankan, karena Babo yang terletak di delta Sianiri Besar dan di Teluk Beraur di masa itu hanya bisa didatangi dengan kapal laut.
Mereka sandar dan berlabuh di pelabuhan rakyat yang kemudian dikenal sebagai Jeti Lama. Jeti sendiri berasal dari bahasa Inggris, artinya dermaga. Di peta-peta kuno Babo, dikenal ada Jeti Lama (Old Jetty) dan Jeti Baru (New Jetty).
Jejak Islam di Babo dapat ditelusuri dari catatan berikut ini. Catatan ini merupakan hasil wawancara mendalam dengan beberapa narasumber di Babo yang dianggap berkompeten.
Di antaranya Abdul Rasyid Fimbay dan Jumat Manuama. Kedua marga ini memang berhubungan dengan Islam, sebab leluhur mereka masuk Islam pada masa-masa awal di Babo, ratusan tahun lalu.
Baca Juga: Telusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari
a. Sultan Iskandar Muda
Diperoleh informasi bahwa beberapa kampung di Distrik Babo yang pernah diintervensi oleh pihak luar dalam penyebaran agama Islam, terdapat di Pulau Nuswarman, Kampung Modan, Kampung Sara, Kampung Warga Nusa, Kampung Aroba dan kampung Saengga.
Dari beberapa kampung tersebut, kampung pertama yang didatangi pihak luar terdapat di Pulau Nuswarman.
Pulau ini pertama kali disinggahi oleh Mubalig dari Ternate bernama Sultan Iskandar Muda (anak dari Sultan Nahu), namun ada yang menyebutkan dari Aceh. Sultan Iskandar Muda tiba di Babo pertama kali di Pulau Nuswarman pada tahun 1618 dari arah utara menuju ke Selatan dan ke Timur (Ternate-Misool).

Kehadiran Sultan Iskandar Muda di pulau Nuswarman dalam misi perdagangan rempah-rempah, Sultan Iskandar Muda berinteraksi dengan penduduk lokal sekitar delapan tahun dalam misi perdagangannya. Praktek ajaran Islam di Pulau Nuswarman hanya bersifat individual dan dalam beberapa kelompok terbatas.
Sementara bagi penduduk lokal belum mengetahui prosesi apa yang dilakukan oleh Sultan bersama teman-temannya. Bahkan ada yang menyebutnya bahwa apa yang dilakukan Sultan bersama teman-temannya (melaksanakan shalat) adalah tidak lain dari berbuat mawi (yang konotasinya identik dengan mantera).
Setelah delapan tahun di pulau Nuswarman tahun 1626, Sultan Iskandar Muda hijrah ke Kampung Modan (Pulau Berlabu dalam bahasa Irarutu). Dalam jangka waktu 16 tahun (1626-1642 M) penduduk lokal mulai tertarik dengan ajaran Islam, di antaranya dari marga Fimbay.
Pada 1643 sudah ada migrasi dari tempat lain di Babo dan mulai berinteraksi dengan penduduk lokal. Pada tahun 1645 dibangun tempat ibadah (langgar) pertama di Kampung Modan lama (dekat Pelabuhan Lama Babo) dengan imam pertama bernama Adam Kwamur.
Baca Juga: Mengenal Negara Curacao Unikameral, Tempat Asal Suami Kopral Costavina “Cosje” Ayal
Pada tahun 1647, Sultan Iskandar Muda hijrah dari pulau Modan ke Misool melewati Taroy, Mongotira dan Weriagar. Setelah tahun 1648 ajaran Islam telah berkembang di sekitar pulau tersebut yang didiami penduduk lokal, di antaranya marga Fimbay, Manuama dan Bauw.
b. Ekspansi Raja Namatota
Masuknya ajaran Islam di Teluk Beraur selain melalui jalur barat, juga melalui jalur selatan. Pada tahun 1764, Raja Namatota melakukan ekspansi ke Teluk Beraur dalam rangka negosiasi dengan para kepala suku untuk mempertahankan wilayah adat dari intervensi pihak asing.
Dalam misi tersebut, Raja Namatota membagikan 40 buah kopiah merah di Pulau Modan, Kasira, dan 2 kampung di tanah besar, masing-masing Kampung Aroba dan Kampung Onar.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



