Telusur Sejarah

Tugu Peradaban Islam di Babo*)

Catatan Perjalanan (Bagian 4)

c. Intervensi Raja Komisi
Selain Raja Namatota dari arah selatan, pada tahun 1761 dan 1832, Raja Komisi melakukan ekspansi ke Teluk Beraur. Ekspansi pertama (1761) kaitannya dalam mendukung nasionalisme lokal terhadap ketahanan teritorial wilayah adat dari intervensi asing (konflik antara Inggris dan Jerman di satu pihak dengan Belanda di pihak yang lain).

Dalam kunjungan pertama ini, Raja Komisi pernah melaksanakan shalat berjamaah di langgar yang dibangun di Jampung Modan.

Kedatangan Raja komisi yang kedua (1832) dalam kaitannya dengan kesepakatan bersama antara misi Katolik dan pimpinan-pimpinan adat lokal yang telah menganut ajaran Islam. Tujuannya untuk membagi kampung-kampung di wilayah Babo untuk kepentingan syiar agama.

Pembagian kampung ini difasilitasi oleh Raja Komisi. Dari pertemuan tersebut, diperoleh kesepakatan di Babo pada bulan Juni 1823, sebagai berikut :
1. Kampung-kampug yang tersebar di kawasan pantai dan pesisir merupakan wilayah komunitas Islam.
2. Kampung-kampung yang ada di pedalaman dan kaki bukit dapat diletakkan patung Bunda Maria (Katolik).

Namun dalam kenyataannya pemeluk agama di bagian pedalaman dan di Distrik Babo adalah didominasi oleh Kristen Protestan.

Baca JugaKunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura

d. Umar Alkatiri
Salah satu keterwakilan bangsa Arab yang hijrah sampai ke Teluk Beraur adalah Umar Alkatiri pada tahun 1814, dengan kapal Pioneer (kapal putih sebutan orang Babo). Kehadirannya di Babo dalam rangka kontak dagang. Menurut sumber informasi yang diperoleh bahwa kampung-kampung yang dijelajahi meliputi : Modan, Tugurama, Sara dan Warga Nusa.

Sekitar dua tahun di Babo, pada tahun 1816 Umar Alkatiri memilih kampung Warga Nusa sebagai tempat domisilinya. Pada 1818, Umar Alkatiri menikah dengan perempuan setempat (perempuan bermarga Manuama).

Hasil pernikahan tersebut diperoleh keturunan pertama bernama Abdullah Alkatiri.

Abdullah Alkatiri kemudian menikah dengan seorang perempuan di Kampung Warga Nusa dan mempunyai anak laki-laki yang salah satunya bernama Musman Alkatiri. Keturunan Alkatiri ini juga dapat dijumpai di Fak Fak, Goras dan Fior. Salah satu perempuan Alkatiri yang kawin dengan penduduk Fior bermarga Kutanggas saat ini berdomisili di Kokas, Fak Fak.

Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna

Pentingnya Tugu Peradaban Islam di Babo

Menelusuri jejak sejarah tersebut di atas, keberadaan Tugu Peradaban Islam di Babo memang sangat penting dan tepat. Ini merupakan suatu terobosan spektakuler dan menjadi tantangan tersendiri ke depannya. Menjadi terobosan, karena ini merupakan tugu pertama dan satu-satunya di Tanah Papua. Menjadi tantangan, karena ke depannya harus menyiapkan berbagai hal terkait faktual Tugu Peradaban Islam tersebut.

Karena mencantumkan kata “Peradaban”, maka hakikat dari peradaban itu sendiri dapat digambarkan berdasarkan definisi para ahli.

Ibnu Khaldun adalah sejarawan Islam pertama yang menulis tentang peradaban. Menurut Ibnu Khaldun, peradaban adalah keahlian dalam bidang kelapangan dunia, memperbarui kondisinya, serta menemukan berbagai ciptaan yang mengagumkan, seperti temuan berbagai keahlian, dalam membuat bangunan, tempat-tempat, dan lain-lain.

Sedangkan Husain Mu’nis berpendapat bahwa peradaban adalah hasil dari setiap kesungguhan yang dibangun manusia untuk memperbaiki keadaan hidupnya. Hasil tersebut dapat bersifat materi maupun maknawi.

Pengertian peradaban menurut Koentjaraningrat adalah bagian dari unsur kebudayaan yang halus, maju dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, dan masyarakat kota yang maju dan kompleks.

Menurut Arnold Toynbee, arti peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang lebih tinggi. Arnold juga menyebut peradaban sebagai kumpulan seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup semua aspek kehidupan manusia, baik fisik maupun non-fisik.

peradaban islam di babo

Huntington menyebut peradaban adalah identitas terluas dari budaya yang teridentifikasi melalui unsur-unsur objektif umum, seperti bahasa, sejarah, kebiasaan, agama, dan institusi, maupun melalui unsur subjektif, seperti identifikasi diri.

Menurut pendapat Alfred Weber, pengertian peradaban adalah pengetahuan praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan alam. Oswald Spengler mendefinisikan peradaban sebagai kebudayaan yang telah mencapai taraf tinggi atau kompleks.

Idealnya, pada Tugu Peradaban Islam di Babo juga dapat mencantumkan atau menyediakan informasi terkait peradaban Islam yang ada di Babo. Selain itu juga, barang-barang atau foto dokumentasi peninggalan peradaban Islam itu dapat disimpan disana sebagai semacam museum, sehingga tiap orang dapat melihat faktualnya.

Baca JugaTelusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari

Hal ini penting dilakukan sehingga generasi penerus akan memahami sejarahnya. Babo pada masa permulaan, Babo pada masa Netherlands Nieuw Guinea, Babo pada masa Perang Pasifik, Babo pada masa TRIKORA dan Babo pada masa sekarang ini.

Itu artinya, harus ada kesadaran untuk dapat merawat benda-benda peninggalan sejarah atau melestarikan tradisi sebab itu menjadi jatidiri orang-orang di Babo.(*)


Catatan:
*) Selesai ditulis di Arfai, Manokwari (Papua Barat) pada Minggu, 13 November 2022 pkl. 03:23 WIT.
**) Penulis merupakan Ikon Prestasi Pancasila 2021 Katagori Sosial Enterpreneur dan Kemanusiaan yang juga Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAAI). Domisili di Manokwari, Papua Barat.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button