Pendapat

Relawan Mandiri, Sokola, dan Butet Manurung

Mereka malah meminjam VCD/DVD film dokumenter Anak Seribu Pulau karya sutradara Garin Nugroho dan produser Mira Lesmana. 

Seri film yang dikerjakan oleh Miles Production, tahun 1995 itu, menggambarkan aktivitas anak-anak Indonesia, dengan lokasi dan latar budaya beragam, salah satunya di Tana Toraja.

Tulisan-tulisan tangan anak-anak Sokola kemudian dibukukan dengan karya anak-anak lain. Tulisan-tulisan jurnalistik, fiksi, foto, lukisan, dan aktivitas pertunjukan itu dimuat dalam buku berjudul Saatnya Kami Bicara, dengan editor Fadilla Mutiarawati dan Andi Sulfiani. 

Buku terbitan Sokola tahun 2008 itu, didukung oleh SoFEI-World Bank dan Save The Children UK.

Kepolosan dan sikap kritis anak-anak tampak dalam tulisan-tulisan mereka. Anak-anak yang suka berenang, tak bisa lagi bersenang-senang merasakan air laut sejak banyak sampah di situ. 

Pesisir Mariso kian kotor. Akibatnya, terjadi bencana banjir, saat air pasang di musim hujan. Wabah demam berdarah juga pernah melanda warga.

Anak-anak tidak bersekolah karena bekerja. Ada yang jadi payabo (pemulung), atau pergi mencari tude (kerang). Mereka juga bercerita tentang anak-anak yang ikut main judi tannang dan goccang-goccang. 

Di halaman terakhir dari buku Saatnya Kami Bercerita, yang judulnya juga ditulis dalam aksara Lontarak, terdapat sederet nama. 

Ada nama Karin Jhonson, Jowvy, Aan Mansyur, Bahar Merdhu, Kiblat Said, dan Wildan. Sejumlah lembaga dan organisasi juga disebut, antara lain Radio Delta FM, Gedung Kesenian Makassar, Biblioholic, Inninawa, Rumah Cendekia, dan MANCA Buyang.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button