Relawan Mandiri, Sokola, dan Butet Manurung
Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Butet Manurung. Nama yang menarik kembali ingatan saya pada aktivitas pendampingan sebagai relawan mandiri di Sokola pesisir Mariso, belasan tahun lalu. Benar, saya teringat lagi masa-masa bersama anak-anak di Balla Pappilajarang Sokola di tahun 2008 itu.
Sokola–tempat di mana anak-anak belajar–merupakan rumah panggung, dikelilingi air laut yang terjebak membentuk danau keruh, akibat proyek pembangunan di kawasan tersebut. Lokasi yang bagai jadi sentra anak-anak beraktivitas dan bermain ini, tak jauh dari Celebes Convention Center (CCC).
Kini, di deretan CCC juga berdiri pusat perbelanjaan nan megah (Phinisi Point Mall), hotel bintang lima (The Rinra Hotel), dan infrastruktur yang kontras dengan rumah-rumah warga di balik tembok sepanjang Jalan Metro Tanjung Bunga.
Dahulu, kita masih bisa melihat rumah panggung kayu produksi Woloan, Tomohon, Sulawesi Utara, itu dari jalan raya. Terakhir, saat saya ke sana, posisi Sokola sudah bergeser, dan tak lagi berupa rumah panggung dari kayu.
Ingatan saya ini muncul setelah Dr. Sumarlin Rengko, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas), membagikan flyer diskusi Dari Hutan ke Huruf: Literasi sebagai Gerakan Pembebasan, yang diadakan Perpustakaan Unhas, Kamis, 6 November 2025.
Pada desainnya disertakan sampul buku “Sokola Rimba”, yang ditulis oleh Butet Manurung. Ditampilkan pula wajah Saur Marlina Manurung, begitu nama lengkap perempuan kelahiran 21 Februari 1972 ini. Aktivis sosial dan antropolog ini hadir sebagai pembicara.
Sokola Pesisir Mariso
Sebelum saya bercerita kenapa bisa bertemu dengan Butet Manurung, terlebih dahulu saya mau berbagi kisah tentang pengalaman menjadi relawan mandiri di Sokola–lembaga pendidikan alternatif bagi anak-anak yang lagi naik pamornya, kala itu. Aktivitas Sokola memang banyak diliput media massa, yang membuat saya mencari tahu tempatnya.
Rupanya, Susilawati (Susi), yang pernah bergabung di LBH-P2i (Lembaga Bantuan Hukum Pemberdayaan Perempuan Indonesia) juga ada di sini. Jadi mempermudah saya ketika datang berdiskusi dan ngobrol dengan Oceu Apristawijaya dan Fadilla Mutiarawati. Keduanya pasangan suami istri yang mengelola Sokola pesisir.
Nama “Sokola” yang ada di Mariso ini, sama dengan nama Sokola Rimba, yang didirikan oleh Butet Manurung di Bukit Dua Belas, Provinsi Jambi, Sumatra. “Sokola” dalam bahasa orang rimba, berarti sekolah.
Selain Sokola Rimba di Jambi dan Sokola pesisir di Mariso, Sokola juga memfasilitasi pendidikan alternatif di Flores Timur, Aceh Jaya, Bantul, Garut, Halmahera, dan Papua. Mereka juga pernah memberikan pembelajaran melalui pendidikan alternatif bagi masyarakat Suku Kajang, Bulukumba.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



