Pendapat

Perlindungan Hutan Adalah Jalan Pulang Bagi Masyarakat Adat

PENDAPAT

Sementara di Tananahu, sebuah negeri yang terletak di Kecamatan Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, sekarang ini lagi ramai soal alih fungsi lahan dari yg dulu PTPN mau beralih ke Sawit. Tapi saat ini negeri tersebut melakukan penolakan keras. 

Sedangkan di Negeri Haya, juga di Kecamatan Tehoru, yang terletak di pesisir Selatan Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah, sedang dihantam aktivitas pertambangan. Beberapa tempat lain di Pulau Seram, atau pada pulau lain di Kepulauan Maluku juga menghadapi masalah serupa. 

Pelajaran dari Aru: Kisah Perlawanan yang Menginspirasi Dunia

Jauh sebelum itu, salah satu contoh paling heroik dari perjuangan masyarakat adat di Maluku berasal dari Kepulauan Aru pada 2013.

Seperti yang dilaporkan oleh The Gecko Project (thegeckoproject.org) dalam artikelnya “Menyelamatkan Aru: Pertempuran Epik Menyelamatkan Pulau-pulau yang Menginspirasi Teori Evolusi”, masyarakat adat Aru secara kolektif menolak proyek raksasa yang akan mengkonversi dua pertiga wilayah daratan pulau mereka menjadi perkebunan tebu milik perusahaan bernama Menara Group.

Perlawanan ini dipelopori oleh Collin Leppuy, seorang mahasiswa asal Aru yang saat itu berusia 23 tahun. Setelah mengetahui bahwa sebelum diberhentikan, Bupati Theddy Tengko ketika itu, diam-diam menyetujui rencana Menara Group untuk menanam tebu di hampir dua pertiga wilayah Aru, Collin merasa terpanggil untuk bertindak.

Ia menyadari bahwa proyek ini akan menghancurkan mata pencaharian dan persediaan makanan dari puluhan ribu warga di Kepulauan Aru, termasuk keluarga, kerabat, dan teman-temannya.

Collin kemudian menemui Jacky Manuputty, seorang pendeta Gereja Protestan Maluku di Ambon untuk meminta bantuan. Jacky, saat ini menjabat Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI, yang memiliki pengalaman puluhan tahun membantu perjuangan masyarakat di desa-desa di bagian timur Indonesia dalam melawan perusahaan-perusahaan ekstraktif, menyambut permintaan tersebut. 

Jacky memahami risiko maupun hal buruk yang bisa dialami oleh kelompok masyarakat adat yang menentang proyek-proyek yang didukung pemerintah. Namun, ia juga melihat potensi besar dalam semangat perlawanan yang ditunjukkan oleh masyarakat Aru.

Pendeta Jacky menyebutkan bahwa semangat kesukarelawanan merupakan bagian dari keberhasilan mereka. “Dalam banyak gerakan advokasi lingkungan, masyarakat diwakili lebih banyak oleh LSM yang datang dan mendukung mereka,” kata Jacky. 

“Sehingga mereka menjadi sangat rapuh. Gerakan Aru memiliki keseimbangan yang baik dalam menggalang dukungan sekaligus mengelola kontrol terkait dengan persepsi publik. Setiap orang yang terlibat dan berperan dalam gerakan, tidak dibayar satu rupiah pun.”

Salah satu tokoh penting lainnya dalam gerakan ini adalah Mika Ganobal, seorang pegawai negeri sipil di Kepulauan Aru. Mika menjadi koordinator utama dari protes jalanan terhadap proyek tersebut di kota utama Aru, Dobo, yang merupakan rumah bagi hampir seperlima dari 80.000 penduduk kepulauan tersebut. 

Dengan bantuan aktivis yang lebih berpengalaman di ibu kota provinsi, Ambon, Mika dan teman-temannya mengatur kampanye media sosial yang membawa berita tentang gerakan mereka ke dunia yang lebih luas pencapaian yang luar biasa mengingat layanan internet dan telepon yang langka di Aru.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button