Banda Neira dan Pelajaran Tentang Menjadi Murid Lagi
Oleh: Namira Zifani Pelu (Sketcher tinggal di Ambon)
Jujur, saya tidak tahu harus mulai dari mana. Mungkin karena perjalanan ke Banda kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia terasa seperti sebuah pintu yang diam-diam terbuka, memperlihatkan jalan baru yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Perjalanan itu dimulai ketika saya tiba di Wisma Grace dan bertemu dengan para peserta program Ruang Berkisah: Aktivasi Ruang Bersejarah – Rumah Pengasingan Bung Hatta, sebuah kegiatan yang didukung Dana Indonesiana melalui Kementerian Kebudayaan.
Kesan pertama saya sederhana: nyaman.
Ada orang-orang yang baru saya kenal, tetapi menghadirkan rasa aman yang sulit dijelaskan. Mereka datang dari latar belakang berbeda, membawa kemampuan masing-masing, namun memiliki satu kesamaan: semangat untuk belajar dan berbagi.
Perasaan itu semakin kuat ketika kapal yang membawa kami menuju Kepulauan Banda mulai berlayar. Lokasi yang akan menjadi tempat kami melakukan “Sketch Residensi” selama beberapa hari.

Di atas dek, beberapa peserta sudah mengeluarkan buku sketsa dan mulai menggambar suasana kapal. Saya ikut bergabung. Namun di tengah aktivitas itu, diam-diam saya dihampiri perasaan yang tidak terlalu menyenangkan. Saya merasa tertinggal.
Coretan mereka tampak begitu matang. Garis-garis yang mereka buat terlihat mantap dan percaya diri. Sementara saya masih berkutat dengan keraguan sendiri.
Beberapa saat saya hanya duduk memandangi kertas kosong. Lalu saya tersenyum. Bukankah rasa tertinggal itu justru tanda bahwa saya sedang berada di tempat yang tepat?
Jika semua orang lebih hebat dari saya, berarti saya akan pulang dengan membawa banyak pelajaran baru. Kesadaran sederhana itu membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



