
Refleksi dan Harapan untuk Masa Depan
Respons para guru sangat positif. Hampir seluruh peserta menyatakan bahwa kegiatan ini menyentuh, menggugah, dan memperbarui semangat mereka dalam mengajar.
Refleksi peserta menunjukkan betapa pentingnya kegiatan semacam ini dilakukan secara rutin, karena guru bukanlah robot yang hanya bekerja, tetapi manusia yang juga membutuhkan ruang untuk merawat dirinya secara emosional dan spiritual.
Harapan saya kepada guru-guru di SMP Negeri Pakkabba, walaupun kita sekolah kecil, walaupun mungkin kurang dianggap oleh orang dari luar, tapi paling tidak, guru-guru, dan juga siswa yang ada di sini sudah punya growth mindset. Dan terutama sadar apa yang dilakukan.
Film Laskar Pelangi merupakan contoh, bagaimana anak-anak yang bersekolah di sekolah yang sebagian dindingnya mau roboh dan ditopong dengan kayu, akhirnya berhasil, dan mencatatkan prestasi membanggakan.
Film Laskar Pelangi diangkat dari novel pertama karya Andrea Hirata, dengan judul yang sama, diterbitkan oleh Bentang Pustaka, pada tahun 2005. Novel dan film ini berkisah seputar perjuangan 10 anak di Pulau Belitong dalam menempuh pendidikan di tengah keterbatasan dan kemiskinan.
Olehnya itu, Kami ingin menjadi seperti Laskar Pelangi yang melintasi keterbatasan dengan cahaya semangat, menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan, dan menyulam mimpi dari ruang-ruang belajar yang sederhana.
Sebagai kepala sekolah, saya percaya bahwa membangun pendidikan dimulai dari membangun manusianya yaitu guru-guru yang utuh, sadar, dan memiliki growth mindset. Seperti yang dilakukan Jepang pasca tragedi Hiroshima, bangsa yang maju adalah bangsa yang mendahulukan pembangunan manusia, bukan hanya infrastruktur.
Saya mau start dari guru-guru dan staf terlebih dahulu. Bagaimana orang-orang yang menjalankan sekolah ini, tidak berada pada fixed mindset, yang mudah putus asa tapi selalu bersemangat. Namun itu akan terjadi bila ada orang lain yang menyampaikan, yang punya kapasitas atau legitimasi intelektual, yakni mereka yang disebut pakar atau ahlinya.
Mungkin lantaran kami keseringan bertemu, jadinya kurang ngefek bila saya sendiri yang menyampaikan. Maka perlu ada pakarnya atau orang dengan titel tertentu yang diundang memberikan materi, berbagi ilmu dan pengalaman bersama guru-guru di SMP Negeri Pakkabba.
Respons para guru pada akhir workshop terlihat senang. Sebab di akhir kegiatan, ada lembar refleksi yang disampaikan oleh peserta, terkait workshop ini. Bagaimana pematerinya, dan bagaimana isi materinya. Semuanya positif. Alhamdulillah hampir 100 persen senang.
Pada akhirnya, yang membentuk masa depan bukan hanya kurikulum dan kebijakan, tetapi jiwa-jiwa pendidik yang hadir sepenuh hati dan penuh kesadaran dalam setiap detik pengabdiannya. (*)
*Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara dengan Rusdin Tompo, di SMP Negeri Pakabba, Rabu, 16 Juli 2025
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




