Pendapat

Menggugah Kesadaran Emosional Guru Menuju Deep Learning 

PENDAPAT

Teknik ini Bahkan bisa pula diajarkan kepada anak-anak. Jadi berbagai emosi, baik emosi positif maupun emosi negatif, bukan untuk dihilangkan sama sekali, tapi diterima terlebih dahulu, kemudian dikontrol.

Misalnya, seseorang pasti pernah kecewa, pernah sedih, pernah marah, dan terkadang tanpa disadari rasa itu muncul. Boleh jadi, dia lampiskan pada orang atau siswa yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Padahal peran sebagai guru itu sangat urgen. Guru itu jadi teladan, dan jadi role model terhadap anak didiknya. Anak-anak yang dihadapi itu merupakan generasi yang sedang dalam proses pencarian jati diri. 

Mereka terkadang masih labil. Jika guru sebagai orang dewasa ternyata juga masil labil, tidak mampu mengontrol emosinya, bagaimana dengan kondisi siswanya? Bagaimana keadaan mereka yang di-handle oleh orang dewasa yang ternyata juga dalam keadaan labil?

Tidak bisa dinafikan bahwa banyak orang dewasa dalam hitungan usia, tetapi tidak dengan kematangan emosi dan pemikirannya. Orang-orang seperti ini, tidak mampu me-manage emosinya sendiri. 

Dia kadang melampiaskan amarah dan kekesalannya pada tempat yang tidak seharusnya. Itu inti dari workshop ini, bagaimana kita menempatkan emosi itu, me-menage-nya, supaya punya efek positif pada anak-anak. 

Kesadaran Emosional

Sementara itu, Dr Rawiah, S.Pd, M.Pd,  memaparkan tentang etos kerja edukator tangguh salah satunya dengan memiliki kebiasaan growth mindset sebuah nilai dasar yang harus dimiliki guru agar tetap profesional dan resilien dalam berbagai kondisi. 

Pemateri memberikan angket kepada peserta yang berisi 20 paket soal untuk memetakan profil pola fikir, dari kegiatan menjawab beberapa pertanyaan, peserta dapat mengetahui level kategori mindsetnya masing-masing. 

Materi ini juga selaras dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang saat ini digaungkan oleh Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yakni tiga prinsip utama pembelajaran mendalam yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, disingkat dengan BBM. 

Salah satu slide yang ditampilkan oleh narasumber mengutip pendapat Prof. Abdul Mu’ti, Mendikdasmen RI yang mengatakan bahwa “Kalau orang berfikir dengan Growth Mindset maka dia yakin masalah yang hanya sedikit itu, jalan keluarnya banyak. Karena itu jangan menyerah, jangan putus asa, yakinlah ada jalan keluarnya”.

Narasumber juga menekankan materinya seputar fixed mindset (pola pikir tetap) dan growth mindset (pola pikir berkembang). Mindset ini mempengaruhi seseorang dalam melihat dunia, menghadapi tantangan, dan mengambil tindakan.

Dalam bahasa sederhana, mereka yang berada pada fixed mindset cenderung berada di zona nyaman (comfort zone), mungkin juga mudah putus asa. Sedangkan growth mindset selalu ingin maju, dan berani menghadapi tantangan. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button