Pendapat

Menggugah Kesadaran Emosional Guru Menuju Deep Learning 

PENDAPAT

Workshop ini dibagi menjadi lima sesi:

  • Brainstorming dan berbagi pengalaman
  • Emotional refreshing
  • Etos kerja pendidik tangguh
  • Ishoma (istirahat, sholat, dan makan)
  • Penyusunan visi dan komitmen pribadi

Setiap sesi dirancang secara sistematis untuk menggugah refleksi diri dan membangun kesadaran akan pentingnya menghadirkan diri secara utuh dalam proses pembelajaran. Selingan games juga membuat setiap peserta semakin antusias mengikuti workshop.

Sesi akhir workshop difokuskan pada penyusunan visi dan komitmen pribadi. Setiap guru diminta menuliskan rencana pribadi yang akan dijalani selama tahun ajaran baru, dengan harapan akan dievaluasi secara berkala. 

Pada sesi menyusun visi dan komitmen pribadi  pemateri lebih menekankan pada GRAND WHY atau alasan terbesar mengapa seorang guru memilih peran menjadi seorang pendidik, Bu Erna juga menyelipkan konsep FBE (Fitrah Based Education) yang ditemukan oleh ustadz Harry Santosa bahwa guru adalah arsitek peradaban. Setiap guru memegang peran strategis dalam membentuk arah peradaban. 

Di balik aktivitas harian yang tampak sederhana mengajar, menilai, mendampingi tersimpan kekuatan besar yang membentuk nilai, budaya, dan karakter generasi mendatang.

Anak-anak hadir di kelas membawa fitrah yang unik, suci, dan lengkap. Tugas kita bukan mencetak manusia seragam, tapi membimbing fitrah itu tumbuh secara utuh dan merdeka. Ruang kelas bukan hanya tempat belajar, tapi miniatur peradaban, dan setiap guru adalah arsiteknya.

Kesadaran Emosional

Di sinilah pentingnya memiliki visi pribadi sebagai guru bukan sekadar rencana kerja, tetapi kompas batin yang menuntun langkah kita setiap hari. Visi yang lahir dari kesadaran, bukan dari tekanan. Visi yang berpijak pada nilai yang kita perjuangkan, warisan yang ingin kita tinggalkan, dan bayangan tentang anak-anak seperti apa yang kita impikan di masa depan.

Namun visi saja tidak cukup. Ia perlu dihidupi lewat komitmen kecil yang konsisten kebiasaan harian atau mingguan yang sederhana, nyata, dan bisa dilacak. Itulah cara kita menyemai perubahan, tidak dengan loncatan besar, tapi dengan langkah kecil yang istiqamah.

Menjadi guru bukan tentang menyampaikan materi semata. Ini tentang menjawab panggilan untuk membimbing jiwa, menumbuhkan semangat merdeka, dan menghadirkan ruang aman bagi fitrah anak tumbuh alami.

“Masa depan pendidikan tidak dimulai besok. Ia dimulai hari ini, dari ruang kelas saya, dari kesadaran saya, dan dari langkah-langkah kecil yang saya pilih setiap hari.” 

Begitulah seharusnya setiap guru menanamkan komitmen di awal pembelajaran di setiap kelasnya.

Untuk itu, tim fasilitator akan melakukan pendampingan dan follow-up guna memastikan bahwa visi tersebut tidak hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar menjadi arah perubahan. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button