Pendapat

Menggugah Kesadaran Emosional Guru Menuju Deep Learning 

PENDAPAT

Seorang guru idealnya berada pada level “pencerahan” yang ditandai oleh kejernihan niat, kedamaian batin, dan kesadaran spiritual. Idealnya, seorang guru minimal berada pada level penerimaan sebuah titik di mana ia tidak lagi terjebak dalam penolakan terhadap kenyataan, namun mulai menerima peran, kondisi, dan murid-muridnya dengan hati yang lapang. 

Dari sana, guru terus bertumbuh menuju zona power, seperti cinta, syukur, dan pencerahan. Ketika telah mencapai pencerahan, energi yang terpancar tak lagi bersumber dari keinginan pribadi, melainkan dari kesadaran murni akan tugas suci sebagai pendidik. Inilah guru yang mengajar bukan untuk menggugurkan kewajiban, tapi untuk menghidupkan jiwa.

Nah, sebagai guru, ditunjukkan, sebaiknya di mana level emosinya. Saya berencana, gambaran tentang level-level energi dan emosi ini dicetak, lalu ditempel pada dinding sekolah yang mudah dilihat setiap saat.

Dalam workshop juga terungkap, bahwa terdapat lima sumber penderitaan menurut founder SEFT yaitu:

  1. Menyesali masa lalu
  2. Tidak menikmati saat ini
  3. Mengkhawatirkan masa depan
  4. Tidak bisa memaafkan, dan
  5. Meletakkan kebahagiaan pada penilaian/mulut orang lain.

Saya menilai materi ini bagus karena relate dengan kondisi kita. Kalau seseorang berada dalam kondisi ini, maka orang tersebut berpotensi merasa sedih dan menderita. Bisa jadi, dia akan sulit move on.

Sebab, kenyataannya, memang ada orang yang sering meresahkan sesuatu yang belum terjadi. Belum kejadian, dia sudah galau duluan dan diliputi prasangka negatif yang juga akan mempengaruhi mood-nya hari itu. 

Kesadaran Emosional

Saya, misalnya, mencemaskan bagaimana nanti siswa-siswa saya kalau ujian, Karena saya dengar-dengar, nanti diterapkan kembali ujian sebagai tanda kelulusan. Contoh lain, terkait rasa malu, merasa tak berharga, masih menyalahkan, masih menyesal, atau masih khawatir. Bisa jadi, masih ada guru yang berada dalam level seperti digambarkan dalam teori itu. 

Padahal, mestinya guru-guru tidak lagi berada di FORCE tapi POWER. FORCE berarti sesuatu yang memaksa dia dari luar, sementara POWER merupakan kekuatan yang berasal dari dirinya sendiri. 

Olehnya itu, salah satu pemateri, Ernawati, S.Pd., yang merupakan guru Bahasa Inggris dari Jeneponto dan rekan seangkatan di Pascasarjana UMS Rappang menyampaikan materi tentang pentingnya emotional releasing dan penyusunan visi pribadi. 

Dalam sesi ini diperkenalkan pula teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang dikembangkan oleh Ahmad Faiz Zainuddin, seorang psikolog lulusan Universitas Airlangga.

Teknik ini merupakan bentuk terapi psikologi energi yang bertujuan menyeimbangkan emosi tanpa menekannya, melainkan dengan menerima, mengolah, dan mengontrolnya secara sadar. 

Teknik ini terkenal efektif mengajarkan untuk sadar penuh dan hadir utuh serta diakui sangat ampuh membersihkan sampah-sampah emosi. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button