Forum Kolaboratif yang Sepi Kursi Pemerintah: Ketika Pemuda Bicara, Negara ke Mana?
Oleh: Embong Salampessy (Pemred potretmaluku.id)
Ada dua jenis pemadam kebakaran di dunia ini: yaitu yang datang ketika api sudah membesar, dan yang memadamkannya sebelum api muncul.
Di Maluku, kita tampaknya lebih akrab dengan yang pertama. Pemerintah sering muncul lengkap dengan jargon klasik, potong di kuku rasa di daging, tapi setelah asap menipis dan kamera televisi mati, yang tertinggal hanyalah bara masalah yang belum diselesaikan.
Berbanding terbalik dengan langkah gesit para pemuda dan aktivis sipil, yang tak punya pangkat tapi punya nurani.
Dalam Forum Kolaboratif Pemuda dan Pemerintah Merespon Konflik untuk Demokrasi Inklusif, yang digelar Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku, di Caffee Ujung JMP Ambon, Kamis, 17 Juli 2025, yang diharapkan justru tak hadir: unsur pemerintah.
Sebuah ironi yang terlalu menyakitkan untuk sekadar disebut “kekeliruan jadwal”.
Padahal, forum ini punya agenda besar: membuka ruang kolaborasi yang inklusif antara pemuda dan pemerintah dalam merespon konflik sosial, mengidentifikasi tantangan partisipasi anak muda, merumuskan strategi kebijakan, hingga membangun jejaring lintas sektor untuk pencegahan konflik jangka panjang.
Tapi, alih-alih duduk di kursi empuk diskusi, pemerintah justru absen dalam perbincangan yang menyangkut masa depan stabilitas sosial.
Respon Cepat vs Respon Cerdas
Yamres Pakniany, salah satu narasumber forum, menyuguhkan kontras menarik: respon cepat versus respon cerdas.
Respon cepat sering tampil meyakinkan di layar televisi, gubernur, kapolda, pangdam, hingga bupati hadir dengan kata-kata teduh dan tangisan simpatik.
Tapi, seperti dikatakan akademisi pada Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon ini, itu semua “jauh dari penyelesaian akar masalah”.
Apa gunanya slogan “Orang Basudara” kalau tak ada riset untuk memahami kenapa dua dusun yang saling bersaudara bisa saling membakar rumah?
Mengapa terus memproduksi “narasi damai” sementara kebijakan pemetaan tanah, distribusi sumber daya, dan pendidikan multikultural tidak kunjung disentuh?
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



