Oleh: Inggrid Silitonga (warga Jakarta kelahiran Ambon)
Mengaduk susu panas, menunggu air mendidih, membuka laptop, menulis.
Begitulah pagi-pagi Laras dimulai, seorang pegawai administrasi di sebuah perusahaan distribusi di kawasan Kuningan. Di rumah petak berukuran 3×4 meter di daerah Tebet, ia memulai hari tanpa kemewahan: tidak ada kopi premium, tidak ada mesin pemanas air, hanya bunyi klakson dan suara radio dari warung sebelah yang menandai bahwa Jakarta telah kembali bergeliat.
Jam 05.00 pagi, Laras sudah berdiri di halte, menunggu bus yang tak kunjung datang tepat waktu. Matahari belum muncul, tapi peluh sudah membasahi pelipisnya. Hari-hari seperti ini bukan pengecualian—melainkan kebiasaan.
Gaji Laras sebesar Rp4,2 juta harus dibagi untuk kos, makan, transportasi, dan cicilan laptop yang ia gunakan untuk menulis. Tak ada ruang untuk liburan, tak ada jaminan dana darurat. Kadang ia hanya bisa berharap pada diskon Indomaret atau sisa lauk malam tadi untuk mengisi hari-harinya.
Setiap bulan, ia mencatat pengeluaran dengan cermat di buku kecil. Tak jarang ia menatap satu angka cukup lama, menimbang mana yang bisa dikorbankan: pulsa internet atau keperluan dapur.
Sebagai perempuan lajang usia 30-an, ia sudah terbiasa mendengar pertanyaan klise dari lingkungan sekitar: “Kapan nikah?” atau “Kamu nggak takut sendiri terus?”
Tapi baginya, bertahan hidup di Jakarta saja sudah cukup melelahkan. Ia tak tahu kapan akan menikah—atau apakah pernikahan benar-benar jawaban dari rasa lelah yang mengendap itu.
Sore itu, gerimis menyapu Jakarta. Laras duduk di bus TransJakarta yang melaju tersendat. Ia menyandarkan kepala ke kaca, menatap gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di seberang jalan—di mana orang-orang bersetelan rapi berbincang santai di kafe.
Sesekali ia turun lebih awal di Jalan Sabang, membeli nasi uduk di tenda pinggir jalan, mengobrol dengan pedagang tahu goreng yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun.
“Kalau kita nggak saling sapa, bisa gila tinggal di kota ini, Mbak,” canda si pedagang.
Jakarta adalah kota dengan dua wajah. Dari gang sempit tempat Laras tinggal, ia bisa melihat kilau lampu apartemen mewah di kejauhan. Di satu sisi orang makan malam di rooftop bar, di sisi lain Laras berbagi kamar mandi dengan empat tetangga.
Di balik kerasnya hidup, Laras menemukan ketenangan dalam hal-hal kecil: tawa anak tetangga yang bermain hujan, suara ibu-ibu menyanyi saat mencuci pakaian, dan obrolan ringan di warung Indomie malam hari.
Ia tahu betul, tanpa itu semua, hidup di Jakarta bisa membuat siapa pun patah. Tapi kehangatan manusiawi di gang sempit, rasa kebersamaan tanpa syarat, itulah yang membuat hari-harinya masih terasa utuh.
Malam itu, setelah menaruh tas kerja dan mengisap rokok tipisnya di depan rumah, Laras membuka laptop bekasnya. Ia menulis untuk dirinya sendiri—untuk menenangkan kepala yang sesak oleh rutinitas dan kelelahan yang tak pernah benar-benar selesai.
“Hari ini, aku lelah sekali. Tapi tadi aku lihat anak kecil main hujan, tertawa lepas. Rasanya aku kuat lagi. Entah sampai kapan begini. Tapi hari ini, aku tetap bisa bernapas. Itu cukup.”
Menulis jadi jalan pelarian, tapi juga penyelamat. Setelahnya, ia menutup laptop, mandi dengan air dingin, dan larut dalam novel murah yang ia temukan di rak diskon Gramedia minggu lalu.
Jakarta tak pernah diam. Tapi dalam kebisingan dan tekanan ekonomi, Laras tetap berdiri. Ia tahu hidupnya tidak mudah—bahkan mungkin tidak akan pernah mudah.
Tapi selama ia bisa menikmati tawa di warung, menulis untuk dirinya sendiri, dan tenggelam dalam cerita-cerita fiksi, ia merasa belum kalah.
“Mungkin Jakarta bukan tempat untuk bermimpi besar. Tapi aku masih bisa berharap. Harapan kecil, seperti bisa tidur tenang malam ini, dan bangun besok dengan semangat baru,” tulisnya di catatan terakhir malam itu.
Ia mematikan lampu, merebahkan tubuh di kasur tipis di pojok kamar, dan memejamkan mata. Dalam gelap yang senyap, Laras tahu satu hal: bahwa perjuangannya belum selesai—dan harapan itu, sekecil apa pun, tetap ia genggam erat.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



