Maluku

Krisis Iklim di Pulau Haruku: Pohon Emas Kini Berbuah Cemas

Cengkih tak lagi rutin berbuah sejak 2019. Petani bingung–menerka cuaca yang terus berubah-ubah akibat krisis iklim.

Di kebunnya, dia menanam cengkih varieties zanzibar, tuni, dan taen. ”Rusak terserang hama, silih berganti sejak lima tahun terakhir,” jelasnya.

Akibat didera aneka masalah, sebagian petani tak lagi mengurusi pohon cengkihnya. Salah satunya Mun Tualeka. Dia membiarkan pohon emasnya terlantar begitu saja.

“Susah kalau mengharapkan cengkeh berbuah lagi. Sudah paling sulit, jangan lihat buahnya, pucuknya hampir saya tidak lihat,” jelasnya.

Kondisi yang dialami Pulau Haruku, juga terjadi di wilayah lain di Maluku Tengah. Seperti di Kecamatan Leihitu, Saparua, maupun kecamatan lain di kabupaten tersebut.

krisis iklim
Kondisi pohon cengkih di Pulau Haruku.(Foto: M.J. Bareds/potretmaluku.id)

Merujuk Data Dinas Pertanian Maluku, sejak 2019–2020 produksi cengkih selalu tak mencapai target. Setahun hanya bisa memproduksi 20.454 ton dari target sebesar 22.038 ton.

Daya beli petani pun terpengaruh. Menurut BPS Maluku, nilai tukar petani (NTP) Provinsi Maluku, mengalami penurunan pada 2022-2023, dengan presentasi 103,88 menjadi 103,39.

Beralih ke Cengkih Raja dan Hutan

Ampy Mustamu tampak sumringah saat memanen cengkih raja miliknya. Tangan begitu cekatan memetik buah cengkeh dari tangkainya. Di tengah situasi krisis iklim, 70 pohon cengkeh raja yang ditanam ayahnya delapan tahun silam tak pernah putus berbuah.

“Sudah tiga kali panen. Awalnya satu pohon dapat tiga kilogram cengkeh mentah. Kini sudah naik jadi 15-20 kilogram per pohon,” jelasnya.

Buahnya berbeda dari cengkeh varieties zanzibar dan tuni. Cirinya buah bontal dan besar, hampir mirip cengkeh tuni.

“Hujan selama apapun dan kemarau panjang, tetap berbuah. Tahan banting dan ramah terhadap krisis iklim. Per tahun, bisa dua kali berbuah,” tuturnya.

Selain Ampy, Fredy Payer juga mulai menanam cengkeh raja.

Freddy menyebut, di dusunnya cuma cengkeh tersebut yang berbuah. ”Yang kita rutin setiap tahun panen adalah cengkeh raja,” ujarnya.

Selain cengkeh raja, sebagian warga di Pulau Haruku juga mulai menanam cengkeh hutan. Dua cengkeh jenis itu, kata Ampy, berbuah saat masa paceklik, ketika terjadi angin muson barat. Kala itu kondisi laut berombak, nelayan sulit melaut.

Dosen Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Herman Hattu menyebut, cengkeh raja dan hutan pada awalnya tidak ditanam petani karena harganya rendah. Harga cengkih raja satu kilogram kering Rp93 ribu, sedangkan cengkeh tuni Rp120 ribu. Tapi karena ada tingkat kerusakan hama dan penyakit termasuk krisis iklim, sejumlah petani mulai menamam cengkih dua jenis itu.

“Cengkih raja dan hutan sangat tahan dalam krisis iklim. Nah kalau dibudidaya sangat baik, setahun bisa berbuah dua kali,” jelasnya.

“Selain itu pertumbuhan tunas baru sangat cepat dan tidak mudah terserang terhadap hama dan penyakit.”

Meski begitu, Ampy menyampaikan, saat awal ayahnya menanam cengkeh raja, orang-orang menganggapnya aneh. Sebab di wilayah Haruku, termasuk di Negeri Oma hanya terkenal cengkeh varietes zanzibar, tuni, dan taen.

“Tapi sekarang warga sudah mulai membudidaya cengkeh raja dan hutan,” katanya.

Ucapan Ampy ada benarnya. Cliff dan sejumlah warga lain pun mulai melirik untuk membudidaya cengkeh raja.

“Produktivitas cengkeh raja itu sangat baik, tahan di tengah kondisi saat ini. Termasuk hama dan penyakit,” ujarnya.

Herman mengatakan sudah saatnya para petani beralih menanam cengkeh raja dan hutan. Jika tidak, nama besar kepulauan Maluku sebagai sentra pohon emas akan hilang.

Liputan ini adalah bagian dari fellowship program For The People

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button