Krisis Iklim di Pulau Haruku: Pohon Emas Kini Berbuah Cemas
Cengkih tak lagi rutin berbuah sejak 2019. Petani bingung–menerka cuaca yang terus berubah-ubah akibat krisis iklim.
“Atau, kalau sudah berbentuk buah, tapi diguyur hujan berdurasi panjang dan sering, buah cengkeh terlepas dari gagang,” sambungnya.
Padahal, Negeri Oma, di Pulau Haruku, tempat Adolof bermukim, memiliki varietes cengkih taen. Cengkih jenis ini diklaimnya tidak ada di wilayah lain.
Musim buah cengkeh varieties ini tiga tahun sekali. Berbeda dengan jenis zanzibar dan tuni yang berbuah sekali tiap tahun.
Adolof membenarkan semenjak empat tahun terakhir cengkeh, tiga varietes tersebut sudah jarang berbuah rutin per tahun. Dia pun tidak tahu penyebab pastinya.
“Seng (tidak) bisa dibilang karena pengaruh krisis iklim. Sebab panas ada buah. Hujan juga cengkih berbuah. Tapi memang sekarang tak banyak,” katanya.
Soal pengaruh perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman cengkih di Pulau Haruku sudah diteliti Imelda J. Lawalata, bersama rekannya, H. Rahatta, S. Leimaheriwa dan J.A Leatemia [2023].

Menurut penelitian itu, Pulau Haruku dengan pola hujan lokal-unimodal mengalami peningkatan curah hujan tahunan sebesar 11,8 persen. Kondisi tersebut terjadi sejak periode 1991-2020, bila dibandingkan periode sebelumnya, yakni 1961-1990.
“Curah hujan musim hujan April-September cenderung meningkat 15,2 persen. Sementara curah hujan musim kemarau Oktober-Maret, tidak terjadi peningkatan yang signifikan, yaitu 1,3 persen,” tulis penelitian tersebut.
Variabel iklim begitu mempengaruhi lama penyinaran surya tahunan, kelembaban nisbi udara dan jumlah curah hujan terhadap produktivitas cengkeh.
Menurut Cliff, dalam setahun cengkeh mengeluarkan bunga awal pada Desember, dan pada Mei bunga mencapai matang petik. Pada perhitungan waktu tersebut, saat ini sering terjadi hujan.
Belum ditambah lagi anomali iklim, seperti El-Nino dan La-Nina, yang kedatangannya sering dalam waktu berdekatan.
“Penyebab dahan dan daun cengkeh kering karena El-Nino 2023 kemarin. Kalau La-Nina bikin banyak cengkeh terserang hama penyakit,” ungkapnya.
Cerita Cliff dibenarkan penelitian Lawalata dkk. Menukil penilitiannya, periode 1961-2020 di wilayah Pulau Haruku dilanda curah hujan ekstrem kering El-Nino 19 kali, dengan frekuensi kedatangan 3 tahun sekali.
“Sedangkan curah hujan ekstrem basah La-Nina 14 kali. Kedatangannya pun 4 tahun sekali,” demikian menurut penelitian itu.
Akibatnya, Ridwan Angkotasan, juga petani cengkih di Pulau Haruku, kebingunan menandai bulan awal cengkeh mengeluarkan bunga. Dulu Agustus dan Oktober-September biasanya cengkeh dipanen.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



