Nampak jalanan mulai basah dan berlumpur, meski masih setumit. Dengan bermodalkan sandal jepit, saya masih mampu menghindari kubangan lumpur. Celakanya, ketika lumpur tidak lagi bisa dihindari dan masuk ke sela-sela antara telapak kaki dan sandal, di situlah akhir perjuangan saya bertahan menggunakan sandal.
Akhirnya, saya memutuskan menggunakan sandal kulit, alias telanjang kaki. Semakin jauh kami menelusuri hutan, semakin parah lumpur yang dilewati. Memang benar, tidak perlu mandi saat akan berangkat adalah keputusan yang tepat.
Di sepanjang perjalanan kami ditemani kicauan burung Kakaktua, Rakong, dan Nuri yang seolah saling bersahut-sahutan jauh di ketinggian pohon. Sesekali bunyi seperti pesawat terbang menggema di telinga. Ternyata itu adalah suara kepakan sayap burung Rakong. Mendengar “keributan” seperti itu, tubuh yang lelah dan suntuk serasa diisi kembali oleh energi alam.
Baca Juga: Indahnya Pantai Namanuti Seram Barat
Setelah beberapa jam berjalan kaki, tibalah di tempat peristirahatan. Hari semakin siang, dan kami tidak membawa perbekalan seperti nasi. Hanya berbekal biskuit untuk mengurangi rasa lapar, dan gula aren untuk mengembalikan energi yang terkuras; sesekali kami mengisi ulang air minum di sungai dan mata air yang mengalir. Kendati tidak ada bekal nasi, ternyata biskuit, gula aren, dan air cukup untuk mengisi kembali energi.
Setelah enam jam berjalan, kami tiba di Air Waesamata. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 1.00 siang. Ketiadaan jaringan telekomunikasi mengakibatkan waktu pada gawai kami menjadi tak karuan. Kadang berganti tak jelas. Kami hanya berpatokan pada posisi matahari.
Di Waesamata, aliran sungainya cukup deras namun tetap jernih. Kami beristirahat cukup lama, melepas lelah, mengisi perut, dan mengisi ulang air minum. Kata Bu Nyong, ini sudah seperdua perjalanan, namun medan di depan jauh lebih sulit dari pada yang baru saja dilewati.
Sebagai orang yang sudah terbiasa bolak-balik Kanikeh, Bu Nyong berulang kali mengingatkan, “Kita jalan santai saja, jangan terlalu memaksakan”. Ternyata kalimat itu memiliki makna.

Dengan kondisi jalanan yang sulit, berjalan dengan terburu-buru akan berdampak pada kondisi fisik: lebih cepat lelah atau bahkan konsekuensi yang paling buruk adalah cedera di tengah jalan.
Daun Gatal Obat Mujarab
Dari Waesamata kami melanjutkan perjalanan. Kali ini medannya sedikit berbukit. Ada tanjakan dan turunan silih berganti. Sesekali pepohonan yang roboh memaksa kami harus memutar arah. Setelah berjalan lebih dari delapan jam, kaki saya sudah mulai sakit. Entah pergelangan, betis, ataupun telapak kaki.
Satu-satunya cara untuk terus melangkah adalah dengan menggosok “daun gatal” pada bagian kaki yang sakit. Daun yang bernama Latin Laportea Ducumana ini acap kali digunakan oleh orang gunung sebagai obat mujarab penghilang rasa lelah dan sakit. Sensasi perih, panas, bercampur gatal memang sulit ditahan. Namun efeknya benar-benar mujarab. Kaki yang mulanya sakit dan capai kini sembuh.
Baca Juga: Ada Suku Noaulu dalam Lirik dan Video Klip Satu Garis Band
Dengan beban carrier di pundak, saya-pun harus mengatur langkah dengan hati-hati. Jalanan yang berlumpur menambah kesulitan, karena salah berpijak, maka akan tergelincir. Apalagi sesekali kami melewati jurang yang cukup tinggi.
Beberapa jam dari Waesamata, kami tiba di tempat peristirahatan selanjutnya. Orang Kanikeh menyebutnya Pohon Jambu. Sesuai namanya, di situ ada pohon jambu yang tumbuh.
Saat beristirahat, nampaklah seorang lelaki, bersarungkan parang di pinggang dan senapan angin di pundak, ia keluar dari semak-semak dan berjalan menuju kami. Posturnya tidak begitu tinggi, sebahu saya. Ternyata ia adalah Weda, salah seorang tuagama yang sedari awal sudah bernegosiasi dengan Usi Lina untuk menjemput kami.
Bahunya yang nampak berotot menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa memikul beban berat, meskipun tubuhnya lebih pendek ketimbang saya. Ia menawarkan diri untuk memikul carrier saja. Carrier yang saya pikul sampai terleha-leha diangkutnya bagaikan mengangkat beban yang tak ada artinya. Beban tersebut lenyap seketika.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



