MalukuPendapat

Kanikeh, Surga Kecil di Kaki Gunung Binaiya

Perjalanan kami berlanjut. Tibalah kami di Stelen, tempat istirahat yang kesekian. Sambil beristirahat datanglah seorang pemuda lainnya. Namanya Herto. Tingginya hampir sama dengan Weda. Dengan menyarungkan parang di pinggang dan memikul tas yang dijahit dari karung bekas, Herto bergabung bersama kami.

Mulutnya seolah sedang mengunyah sesuatu. Ternyata itu adalah kulit pinang, yang menurutnya, dikunyah (tidak ditelan) untuk menunda rasa lapar dan haus selama di perjalanan.

Saya yang tidak terbiasa dengan habitus orang gunung, tiba-tiba bertanya: “Memangnya anda tidak membawa bekal?” “Tidak”, sahutnya. Saya kembali bertanya: “Sejak pukul berapa dan dari mana anda berjalan?” “Pukul 8 pagi, dari Huaulu”, sahutnya dengan ekspresi biasa-biasa saja. Saya ternganga sambil membuka mulut seperti orang bodoh.

Menempuh jarak yang begitu jauh dengan tidak membawa perbekalan bukanlah manusia biasa. Bagaimana dengan kita yang baru berjalan pukul 7.00? Itupun dari Roho (dua jam dari Huaulu). Kemampuan dan kekuatan orang gunung memang di luar nalar, menurut saya. Jika di kondisi yang sama, saya mungkin sudah cedera dan tidak lagi mampu berjalan.

Setelah beristirahat yang cukup, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan datangnya Hertu, kami berlima berjalan beriringan.

Baca Juga: Mena Muria dalam Struktur Bahasa Lio Upaa Kao, Mariana – Manusela di Nusa Ina Pulau Seram

“Kanikeh sudah dekat”, sahut Hertu untuk memecah keheningan di tengah hutan. “Dekat-jauh versi orang gunung itu berbeda dengan versi kita”, pungkas Usi Lina sambil tertawa. Ya, bagi mereka memang sudah dekat dan mereka masih terlihat bugar, namun apa daya kita yang sudah hampir kehabisan tenaga.

Kali ini, medan semakin parah. Kami harus melewati lumpur setinggi lutut orang dewasa. Alas kaki harus dilepas (kecuali sepatu), karena sekali masuk maka hilang tak ada kabar. Orang Kanikeh biasanya memberi alas berupa kayu ataupun bambu agar mudah berpijak.

Lutut Bergetar Jelang Kanikeh

Namun tetap saja, karena sudah dilalui berulang kali, kayu dan bambu justru semakin licin dan tenggelam. Tidak ada jalur lain, kami dengan terpaksa harus menerjang lumpur. Sesekali saya hilang keseimbangan dan jatuh ke dalamnya. Bahkan saya berulang kali harus diawasi dan dipegang oleh Weda ketika melewati beberapa jembatan yang sudah dipenuhi lumpur.

aa8a3fa7 284e 46ef 954c da968a1405bd
Foto: Vikry Reinaldo Paais

Tenaga kami benar-benar dikuras kali ini. Lutut saya bergetar, seolah memberi tanda bahwa sudah mencapai batasnya, namun saya terus memaksakan.

Setelah kurang lebih dua jam menerjang lumpur yang begitu dahsyat, tibalah kami di tempat peristirahatan terakhir, Jembatan Waringin. Di bawahnya mengalir sungai Sapalewa. Di sungai inilah semua orang biasanya berhenti untuk beristirahat sekaligus membasuh semua kotoran yang menempel.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.00 sore, matahari sudah bersiap meninggalkan kami. Sekitar dua belas jam kami lalui dengan jalan kaki.  Saya benar-benar mencapai batas kemampuan. Pergelangan kaki saya seperti habis diten sakit. Kali ini Kanikeh benar-benar sudah dekat. Tersisa beberapa ratus meter lagi.

Dengan terleha-leha saya berjalan memasuki Desa Kanikeh. Dari kejauhan mulai nampak rumah-rumah penduduk. Semakin saya masuk semakin saya ternganga dan kehabisan kata-kata. Cerita tentang Kanikeh memang benar adanya.

Baca Juga: Musim Timur di Selatan Seram: Hujan, Makanan dan Ikatan Sosial

Rumput hijau tebal menutupi hampir seluruh pekarangan rumah, bahkan hingga ke jalan utama. Berpadu dengan bebatuan hitam menambah keindahan yang sangat kontras dengan warna hijau. Saya seperti berada di sebuah tempat khayalan. Rerumputan hijau dengan udara yang sangat sejuk membayar lunas semua rasa lelah selama perjalanan.

Yang paling mengejutkan adalah beberapa rumah sudah dibangun menggunakan beton yang beratapkan seng. Sekali lagi Saya benar-benar dibuat mati kata. Bagaimana caranya semen dan seng diangkut hingga ke sini?

Dari Kanikeh, nampak jelas gunung tertinggi di Maluku (Binaiya), dan di sebelahnya berdiri kokoh satu gunung keramat (Murkele). Perjalanan yang melelahkan terbayar lunas.

Memang benar, Kanikeh adalah surga kecil di Pulau Ibu (Nusa Ina/Seram). Ibarat pepatah “surga ada di bawah telapak kaki ibu”, maka Kanikeh adalah surga di bawah kaki Binaiya.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DARI POTRETMALUKU.ID DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button