Ambon Dolo-dolo

Jadi Penjual Ayam dan  Pedagang Daging Sapi Musiman

AMBON DOLO-DOLO

Penulis: Rusdin Tompo (warga Makassar kelahiran Ambon)


Kalau petani pung musim panen, pedagang pung musim pemakaian. Istilah waktu pemakaian ini dikenal di kalangan pedagang daging sapi dan penjual ayam, yang rerata berasal dari Sulawesi Selatan.

Waktu pemakaian itu biasanya saat perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Hari Natal. Bisa juga saat sidi, yang diadakan dua kali dalam setahun. Yakni saat Hari Natal dan ketika perayaan Paskah. Tingkat konsumsi yang besar ini dilihat sebagai peluang bisnis oleh para pedagang.

Beta pung kakak, dolo-dolo itu ada yang bajual daging, ada juga yang bajual ayam. Kak Rusly (Cully) itu jualan daging sapi, sedangkan Kak Rustam (Ottang) bajual ayam.

Tapi, sebelum beta carita dong dua, beta mau carita beta pung bapa do. Beta bapak ini juga pedagang ayam. Tapi, dolo-dolo itu masih ayam kampung. Masih jarang, atau mungkin juga belum ada orang yang jual ayam ras. Para pedagang ini, kayaknya terbagi dua tingkatan. Ada yang pemilik, ada yang cuma menjajakan. Beta pung bapa termasuk pedagang yang tingkatan pertama.

Ayam-ayam itu sebelum dijual atau sambil menunggu pembeli, ditaruh dalam kandang-kandang yang terbuat dari besi. Kandangnya cukup besar dan kokoh. Tingginya mungkin satu meteran.

Para pedagang biasanya menunggu pembeli sambil duduk-duduk dan ngobrol di atas kandang ayam itu. Kadangnya cukup banyak, jumlahnya di atas 10 kandang. Karena para pedagang yang masuk kategori bos juga lumayan.

Untuk menyiasati persaingan, ada juga penjual ayam yang menjajakan ayamnya dengan cara menawarkan langsung ke calon pembeli. Biasanya, ayam diikat beberapa ekor, lalu ditenteng (dijinjing). Ayam-ayam yang dibawa itu bervariasi. Ada ayam jantan, ayam betina, dan ayam-ayam yang agak muda. Supaya memungkinkan pembeli memilih.

Ayam-ayam tersebut tidak diternakkan sendiri oleh pedagangnya. Mereka juga membelinya dari orang-orang yang datang dari daerah. Nah, saat membeli ayam-ayam itu juga punya keseruan dan ketegangan tersendiri. Bagaimana tidak. Begitu ada mobil angkot dari luar kota tiba, langsung dikerubungi oleh para pembeli ayam, yang notabene juga merupakan pedagang ayam.

Sebelum ada terminal di Pertokoan Pelita, mobil-mobil dari luar kota yang datang pagi hari biasanya menurunkan penumpang di jalan raya yang membelah pasar atau di depan Amboina Theatre. Titik-titik lokasi pemberhetian angkutan luar kota ini sudah diketahui. Di sanalah perburuan ayam dilakukan. Begitu terlihat mobil akan berhenti, langsung didatangi. Sebenarnya, yang mau dibeli itu bukan hanya ayam, tapi juga pisang, ubi dan hasil bumi lainnya.

Bila ada salah satu pedagang yang memegang ayam dan mulai menawar dari warga yang akan menjual ayamnya maka pedagang lain akan menyingkir. Ini semacam etika atau aturan yang berlaku tidak tertulis. Kalau ada yang sudah lebih dahulu memegang ayam lalu yang lain menyerobot, besar kemungkinan terjadi keributan.

Kasus-kasus orang baku tikam, kadang bermula dari urusan berburu ayam seperti itu. Dolo-dolo itu, masih lazim dijumpai pedagang yang menyelipkan badik di pinggangnya. Badik ini ada yang disimpan di balik baju, tapi ada pula yang sengaja diperlihatkan.

Setelah pasar diperluas ke arah pantai, para pedagang menempati los-los yang disediakan pemerintah. Letaknya paling di belakang. Pedagang ayam dan pedagang daging sapi berdekatan. Di sekitar situ juga tempat pedagang ikan menggelar dagangannya. Letaknya sudah di atas laut, apalagi kalo air pasang.

Saat beta pung bapa masih berjualan, katong masih kacil-kacil, jadi balong pi iko bajual. Sekalipun sering juga ka pasar tapi bukan dalam rangka bajual. Biasa, anak kacil suka baiko orang tatua.  Nanti su basar, terutama waktu su dudu di bangku SMA, baru katong pi iko bajual di pasar yang berada di Kelurahan Honipopu tersebut.

Pada saat-saat waktu pemakaian itu, kadang juga bertepatan dengan liburan. Jadi klop sudah. Kebutuhan konsumsi daging yang besar membuat dong potong sapi bukan hanya di RPH tapi juga di luar itu. Pernah beberapa kali dong potong sapi di Pasar Wainitu, seng jauh dari muka rumah.

Kalo pi bantu bajual di pasar, musti pagi-pagi skali. Sebelum subuh malah. Begitu tiba, pasar su rame. Meski di beberapa sudut masih gelap karena masih dini hari. Tapi di beberapa tampa su terlihat terang. Bohlam lampu warna kuning manyala menemani aktivitas para pedagang.

Sesekali terdengar teriakan, komunikasi antarpedagang, setelah daging-daging ditimbang dan mulai dibawa ke meja-meja los jualan. Teriakan itu juga untuk keperluan memesan kopi, kopi susu, teh, atau teh susu untuk penghangat perut.

Di dekat situ juga memang ada warung yang menyediakan menu sarapan pagi. Beta kalau pi iko bajual, biasa pesan teh susu. Saat itu, beta balong minum kopi. Karena dolo-dolo itu, kalau seumuran katong minum kopi, nanti dibilang kayak orang tua-tua hehehe.

Kalau katong ka pasar, suasananya seperti di Makassar. Orang-orang kebanyakan berkomunikasi pake bahasa Makassar, selain logat Ambon dan bahasa Indonesia. Makanan yang disediakan saja berbau-bau Sulawesi Selatan. Misalnya, dong ada jual songkolo (nasi pulut), juga putu cangkir.

Istilah-istilah Makassar juga digunakan terkait pekerjaan ini, seperti pammolongang (pemotongan) dan jame’-jame’ untuk menyebut daging ukuran kecil yang dikuliti dari tulang-tulang sapi. Meski ada juga orang dari suku lain yang bajual daging sapi, tapi dominan dari Sulawesi Selatan. Akhirnya orang-orang itu juga terpengaruh bahasa Makassar.

Di pasar daging ini, ada semacam struktur dan pembagian kerjanya. Ada beberapa bos besar yang memang pung modal untuk potong sapi dalam jumlah tertentu setiap hari. Ada yang cuma bajual orang pung daging. Ada yang jualannya itu daging utuh kiloan, tapi ada juga yang hanya jualan jame’-jame’. Bahkan ada yang jualan jame’-jame dan tulang. Ada yang kerjanya dengan kampak setiap hari untuk potong tulang. Ada yang kebagian pi cari dan menaksir sapi untuk dibeli, yang bisa aja sampai ke luar Pulau Ambon.

Kalau beta iko pi bajual, lebe banyak badiri-badiri sa tunggu pembeli lewat, sapa dong, untuk tawarkan jualan. Kadang juga diminta kasi kaluar sumsum dari tulang belakang sapi. Caranya, pake bambu yang su diraut agak besar, lalu dibungkus kantong plastik, kemudian dimasukkan ke rongga tulang belakang. Musti tusuk pelan-pelan, jang sampe putus. Sumsum, juga buntut (ekor sapi), kebanyakan su ada yang punya.

Kalau beta pi bajual saat menjelang Natal, beta pung Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Ambon, Bapak Hitipeuw, sering pesan daging sapi di katong. Biasanya, antua su pesan saat di sekolah, nanti beta antar ka antua pung rumah di Karpan (Karang Panjang) begitu pulang bajual. Di sana baru antua bayar, sesuai jumlah pesanan.

Tidak semua penjual itu punya tempat atau meja sandiri. Pedagang daging sapi itu seng bajual seharian. Biasanya paling sampe jam 10. Setelah itu, ada penjual laeng yang bali dia pung daging, jame’-jame’, atau tulang-tulang sapi, kalo jualannya belum habis. Dong yang jualan siang sampe sore itu hanya manumpang di meja pedagang sebelumnya.

Mengapa dia bisa bajual di situ? Ya karena dia bali antua pung daging atau tulang-tulang. Jadi dia dapa semacam privilese. Jang pandang enteng orang-orang ini, dong ini biasanya masih merintis karier. Beberapa bos juga mengawali usahanya dengan cara bagitu.

Ada yang bisa jadi pembelajaran dari para pedagang sapi ini. Dong selalu saling menyemangati saat jualan. Ale bayangkan saja, walau seng ada pembeli, dong musti tetap berdiri menghadap kaluar. Kalau ada yang capek dan mulai malas-malas, misalnya bajongkok, tamang lainnya akan bilang: oee badiri…badiri… sambil mengipas-ngipaskan jualan dengan tangannya.

Para pedagang daging sapi ini memang kompak. Dolo-dolo itu bahkan mereka punya kesebelasan, namanya Tupoda, akronim dari tukang potong daging. Mungkin mereka termotivasi dari kesebelasan PSM Makassar hehehe. Beta pernah lihat dong maeng di lapangan bola di Waihaong. Para pedagang ini kebetulan banyak juga yang tinggal di sana.(*)

Gowa, 8 Februari 2022


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button