Telusur Sejarah

Harlina Kassim, Pegiat Literasi Asal Malang di Soasiu dan Kotabaru Jayapura pada Masa Trikora 1961-1963

In Memoriam

Pameran Buku Kerja Sama dengan Gunung Agung di Irian Barat (1963)

Peluang langkanya bahan bacaan di Indonesia saat itu, tertangkap oleh Haji Masagung alias Tjio Wie Tay. Pada awalnya, Tjio berjualan kecil-kecilan di jalanan Glodok dan Pasar Senen. Tetapi pada 13 Mei 1951, dia membuka toko buku yang diberi nama sesuai namanya. Arti nama itu sendiri adalah “Gunung Besar”. Nama itu kemudian diubah menjadi Gunung Agung.

Presiden Soekarno beberapa kali hadir dalam peresmian Toko Buku Gunung Agung itu. Bahkan, karena kekagumannya, Bung Karno menjadikan Gunung Agung sebagai ujung tombak pendidikan nasional. Sejak saat itu, Gunung Agung menjadi terkenal dan membuka cabang dimana-mana. “Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan,” ujar Bung Karno dalam suatu kesempatan.

Buku-buku mengenai perjuangan Trikora dan Bung Karno pun dicetak oleh Gunung Agung. Masagung terus menerbitkan sejumlah buku-buku baru terkait perjuangan bangsa Indonesia, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi (2 jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (5 jilid), serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak.

Baca JugaTelusuri Bangunan Pillbox di Manokwari, Jejak “Threatre of Pacific” di Bumi Kasuari

Presiden Soekarno juga ingin agar Gunung Agung dapat berperan dalam Trikora. Oleh sebab itu Gunung Agung diminta memenuhi kebutuhan buku-buku untuk di Irian Barat. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Gunung Agung, dan kebetulan Harlina masih berada di Kotabaru (Jayapura). Maka pameran buku-buku pun diselenggarakan di Jayapura, Serui, Biak, Sorong, Fak Fak dan Kaimana.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan pula bahwa pada tahun 1963-1964 itu, Gunung Agung telah memiliki perwakilan atau kantor cabang di Irian Barat. Di antaranya terdapat di Jalan Kalimantan 13 Sukarnapura (Jayapura), di Jalan Numfor, Biak dan di Jalan Merdeka, Manokwari. Sedangkan untuk Yogyakarta ada di Jalan Diponegoro dan di Tanjung Pinang ada di Jalan Bali. Kantor pusatnya sendiri ada di Jalan Kwitang 13, Jakarta.

Harlina Kassim

Penutup

Harlina Kassim telah membuktikan, bahwa meskipun awalnya hanya dengan modal niat saja, tetapi dibarengi dengan usaha, semua itu dapat dilaksanakan. Niat artinya cita-cita, tanpa adanya kemauan, manusia tak akan berusaha. Niat mendirikan Mingguan “Karya” di Soasiu sebagai ibukota propinsi perjuangan Irian Barat, telah terlaksana.

Begitu juga niat Harlina bisa tembus ke Irian Barat sebagai sukarelawan juga telah terlaksana. Bahkan, sesuai dengan profesinya, Harlina tetap bisa menerbitkan selebaran dan mingguan di daerah yang dikuasai Belanda untuk memberikan penerangan kepada masyarakat disana akan pentingnya bergabung dengan NKRI.

Tidak hanya sampai di situ, Harlina juga menggagas pameran buku bekerjasama dengan Gunung Agung di daerah Irian Barat yang baru saja dikembalikan kepada NKRI. Pada 4-6 Februari 1963, Harlina menyelenggarakan Pameran Buku-buku Indonesia sebagai ketua penyelenggara bersama direktur PT Gunung Agung.

Baca JugaKunjungi Lokus Perang Wamsisil di Saparua, Menguak Sosok Misterius Pattimura

“Siang malam kami sibuk meladeni para pengunjung jang terus sadja membandjiri pameran buku dan selama tiga hari itu, buku-buku berpindah tangan seperti katjang goreng sadja. Tak lupa, buku-buku komik jang menarik hati anak-anak dan kaum tua ikut habis terbeli. Sungguh suatu pameran jang sangat berhasil!”

Kini, generasi saat ini, tentu sangat sedikit mengalami hambatan jarak dan waktu. Sarana dan prasarana perhubungan telah menghubungkan berbagai tempat dan lokasi di Indonesia. Hanya dalam hitungan jam saja, kita dapat mencapai lokasi tujuan. Oleh sebab itu, tidak ada alasan kegiatan literasi tidak dapat berjalan.

Untuk mencapai pulau-pulau terpencil dan terluar, sudah ada perahu dan pesawat yang bisa dimanfaatkan. Tinggal semangat dan niat yang perlu dipertahankan. Apatah lagi yang berada masih di dalam kota, tidak ada alasan untuk tidak memperhatikan mereka. Generasi emas Papua harus senantiasa memperoleh hak-haknya, terutama literasi dasar alias calistung.(*)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button