Telusur Sejarah

Harlina Kassim, Pegiat Literasi Asal Malang di Soasiu dan Kotabaru Jayapura pada Masa Trikora 1961-1963

In Memoriam

“Mengapa aku sampai disini kadang-kadang aku berpikir, seolah-olah chajalan. Aku masih ingat pada kata-kataku, kepada polisi-polisi muda jang dipindahkan ke Soasiu. Waktu itu mereka sangat menyesal atas lepindahannja kedaerah yang sangat sunji seperti Soasiu. Mereka merasa tertipu, jang disebut Propinsi Irian Barat itu njatanya seperti daerah mati belaka. Walaupun mereka laki-laki, namun banjak jang menangis. Maklum, umurnja juga masih diantara 17-22 tahun, begitu keluar dari pendidikan Sukabumi langsung dibawa ke Soasiu,” tulis Harlina mengenai suasana di Soasiu.

Harlina menyadari bahwa tinggal di daerah yang sunyi seolah mirip buangan. Tetapi, dia berharap bahwa Soasiu akan mengalami kemajuan dan perkembangan baru. Anjuran Presiden terkait asimilasi antar daerah bisa terlaksana. Termasuk, polisi muda yang bujangan tadi, bisa menikahi perempuan Soasiu sehingga akan menjadi ramai.

Menurut Harlina, di Soasiu memang sudah ada pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate. Namun, itu adalah pemancar lokal dan sayangnya tidak semua warga disana memiliki radio. Penerangan dari radio tidak ada. Hal inilah yang menjadi pemikiran Harlina akan pentingnya surat kabar, perpustakaan dan sarana penerangan masyarakat lainnya.

Baca Juga: Haji Misbach; Sosok “kiri” Tokoh Pergerakan RI yang Diasingkan Belanda ke Manokwari

Untuk mempermudah segala kegiatannya, Harlina membuat sebuah yayasan yang diberi nama Kartika Lina. Yayasan ini bukan hanya menerbitkan Mingguan “Karya” tetapi juga bergerak dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan lainnya. Perpustakaan, olahraga, tata busana dan kesehatan.

Menerbitkan Mingguan “Karya” dan Selebaran “Tjenderawasih”

Sesuai dengan tekadnya, Mingguan Karya akan diterbitkan kembali pada 1 Desember 1961. Oleh sebab itu, Harlina berjuang untuk mengupayakan kertas, sebab saat itu kertas terbilang langka. Hanya kementerian saja yang memilikinya. Dengan berusaha meminta kesana-kemari, akhirnya Harlina pun mendapatkan kertas. Jumlahnya lumayan banyak hingga ratusan rim.

Harlina Kassim

Sayangnya, untuk membawanya dari Makassar dan Ambon lalu ke Soasiu tentu memerlukan perjuangan lagi. Suka-duka membawa kertas itu selama dalam perjalanan dari Makassar, Ambon dan Soasiu menjadi pengalaman tersendiri bagi Harlina. Bagaimana dia sempat tertinggal kapal, sehingga harus naik perahu dayung ke Soasiu. Perjalanan yang tidak mudah bagi gadis beliau berusia 20 tahun saat itu.

Akhirnya, setelah melewati berbagai cobaan, Harlina pun dapat menerbitkan Mingguan “Karya”. Formatnya mirip Berita Minggu yang ada di Jakarta, yaitu mencakup kolom cerita pendek, gambang Jakarta a la daerah, ruang pendidikan dan kesehatan. Untuk kolom 1, berita-beritanya harus yang hangat. Berita-berita itu dikumpulkan empat hari sebelum proses pencetakan di Soasiu.

Baca JugaMengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru Papua Barat

Harlina memiliki staf redaksi di antaranya Hamid, Idris, Saibu, Saleh dan beberapa orang lainnya. Ketika Harlina berangkat ke Irian Barat bersama sukarelawan lainnya, hanya Hamid yang tinggal di Ternate meneruskan penerbitan Mingguan Karya. Mingguan itu tetap terbit secara teratur meski Harlina dan yang lainnya tidak ikut membantu.

Sementara itu, Harlina juga menerbitkan selebaran Tjenderawasih di pedalaman pulau perbatasan: Pulau Omera, Pulau Kawe dan pulau-pulau lainnya di sekitar Sorong. Dengan mengandalkan mesin stencil dan kertas puluhan rim yang dibawa dari Soasiu, pekerjaan penerbitan untuk penerangan masyarakat itu dapat dilakukan. Bisa dibayangkan, orang yang membawa mesin stencil itu tentulah agak kesusahan.

Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI, Harlina juga membuat surat kabar Tjenderawasih di Kotabaru (Jayapura). Surat kabar itu kemudian berubah dari format stencil menjadi format percetakan profesional. Bisa dibayangkan, bahwa pada tahun-tahun itu, barang cetakan masih dianggap sesuatu yang mewah. Alasannya, tidak semua masyarakat dapat membaca suratkabar. Kiriman dari Jakarta, bisa berbulan-bulan baru tiba di Tanah Papua.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button