Dalam konteks ini Masyarakat Kei, memiliki budaya Fangnanan, dipahami dalam memberikan nasehat atau pandangan yang disampaikan dengan penuh kasih sayang kepada personal atau komunitas. Seorang pemimpin memberi pikiran dan pandangan sebagai arahan bagi yang dipimpin. Arahan itu dipenuhi dengan ketegasan, kelembutan dan kepedulian yang dalam.
Seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu lewat materi ajar. Guru juga memberi Fangnanan berdasarkan nilai-nilai hidup yang terkandung di dalam materi sehingga siswa tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas secara emosi, sosial dan moral. Di sini guru berdiri menjadi penerang untuk membimbing nara didik memahami makna di balik pengetahuan yang disajikan.
Sejalan dengan itu seperti yang ungkapkan oleh Unesco dalam Structure of the AI competency framework for teachers menekankan dimensi Human-centred mindset dan Ethics of AI dalam kerangka kompetensi guru: guru harus paham prinsip-prinsip etika, menjaga martabat siswa, dan ikut serta dalam pembuatan aturan penggunaan AI di sekolah.
Karena itu Budaya Fangnanan mengisi kekosongan itu dengan memastikan intervensi guru tidak sekadar mengoreksi kognisi, tetapi juga membimbing siswa memahami makna secara emosional, sosial, dan moral. Dengan demikian Fangnanan berfungsi sebagai lapisan empati yang tidak dimiliki AI.
-
Tuntunan
Tuntunan yang mengacu pada teladan beradab, bermartabat, dan berdedikasi, dapat dipandang sebagai mekanisme pengawasan etis (ethical governance) dalam precision education. Yang menekankan pentingnya topik seperti etika, norma, dan kebijakan dalam penerapan AI, termasuk isu bias algoritma dan privasi data (Yang, 2021).
Dalam konteks masyarakat Kei merujuk pada sikap dan perilaku seorang pemimpin yang beradab, bermartabat dan berdedikasi. Pemimpin tidak hanya cerdas dari sisi pengetahuan. Pemimpin yang memiliki tuntunan adalah seorang pemimpin yang memiliki budi pekerti yang halus, menghormati sesama, memiliki harga diri dan martabat dalam jabatan, berintegritas dan loyal dalam tugas.
Guru adalah profesi yang mengedepankan peradaban, martabat dan dedikasi. Guru tidak hanya menjadi penyampai materi bagi anak didik. Seorang guru harus dapat menjaga martabatnya bukan hanya di sekolah di hadapan anak didik tetapi juga dalam masyarakat.
Di sini, guru memberikan teladan tentang perilaku yang beradab, bermartabat dan berdedikasi sehingga guru tetap memiliki wibawa dan kehormatan di mata anak didik maupun masyarakat. Penerapan tuntunan sekaligus juga mengajarkan pendidikan karakter kepada anak didik. Mereka akan belajar menghargai orang lain, berbudi luhur dan halus, berintegritas, berloyalitas dan berdedikasi.
Dalam kerangka UNESCO, Tuntunan sangat relevan dengan kompetensi di domain Ethics of AI. Guru diharapkan memahami implikasi etis, menjaga privasi siswa, dan menghindari diskriminasi yang mungkin muncul akibat bias algoritma.
Pada tahap Acquire, guru membangun literasi AI dan kesadaran etis; pada tahap Deepen, mereka mengintegrasikan prinsip-prinsip etika ini ke dalam kebijakan sekolah; dan pada tahap Create, mereka ikut merancang sistem AI yang sesuai nilai moral dan budaya lokal (Unescounesco, 2024).
Godwill dan Plessis menyoroti pentingnya evaluasi etis sebelum mengimplementasikan AI di pelatihan guru, termasuk perhatian pada integritas penilaian, perlindungan data, dan risiko bias algoritma (Du Plessis, 2024).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



