Nilai Tuntunan teladan perilaku bermartabat, berintegritas, dan beradab berperan sebagai pedoman moral agar guru dan calon guru menggunakan AI secara bertanggung jawab. Karena itu bagi penulis sendiri Tanpa Tuntunan, teknologi berpotensi menjadi instrumen kontrol yang kaku dan tidak manusiawi.
-
Visbad
Filosofis yang ketiga ini, mencerminkan sikap pemimpin yang mengayomi, merangkul dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memiliki visbad akan mempertaruhkan apapun untuk keselamatan, keamanan setiap orang yang dipimpinnya. Bahkan pemimpin tersebut akan menjaga keutuhan dan kesatuan dari komunitas yang dipimpinnya.
Pemimpin dengan Visbad akan berusaha menjadi pendengar atas setiap keluhan orang yang dipimpin. Bersama- sama mencari jalan keluar jika terjadi masalah. Pemimpin yang dipenuhi dengan Visbad akan selalu menjadi tempat pulang pagi orang yang dipimpin saat mereka telah melangkah keliru.
Guru adalah seorang pemimpin bagi anak didiknya. Seorang guru dari perspektif Visbad akan mengayomi, merangkul dan melindungi anak didiknya. Guru akan mendorong siswanya untuk terus berkembang sesuai kemampuan dan potensi diri. Guru membuka ruang inklusivitas bagi nara didik.
Guru melindungi nara didik dari kekerasan, diskriminasi bahkan eksploitasi baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Peran advokasi terhadap hak-hak anak didik akan menjadi prioritas guru.
Dengan demikian anak didik akan berkembang dengan perasaan didukung, dimotivasi dan terbuka untuk membarui dirinya ke arah yang positif. Stephen menekankan konsep precision education yakni mencegah siswa at-risk dan mengintervensi secara cepat.
Namun AI memprediksi risiko berdasarkan data akademik, keterlibatan, atau pola perilaku. Visbad memperluas definisi perlindungan ke dimensi sosial-budaya, seperti menghindarkan siswa dari diskriminasi, kekerasan, dan eksploitasi, baik di sekolah maupun masyarakat.
Dengan Visbad, intervensi yang direkomendasikan AI dapat diimplementasikan secara holistik, tidak hanya menyasar perbaikan prestasi, tetapi juga memulihkan rasa aman, harga diri, dan motivasi siswa.
Dengan demikian ketiga nilai budaya Kei ini, dapat diposisikan sebagai kerangka pedagogis berpusat pada manusia (human-centered pedagogical framework) yang memberi arah moral dan kultural bagi implementasi precision education.
AI menyediakan diagnosis cepat, prediksi presisi, dan rekomendasi personalisasi; sementara Fangnanan, Tuntunan, dan Visbad memastikan rekomendasi tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan yang empatik, etis, dan melindungi martabat siswa. Inilah bentuk nyata dari dialog antara teknologi dingin dan kemanusiaan hangat yang diimpikan Stephen Yang.
Jika diintegrasikan secara sadar, model ini bukan hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga mengakar kuat pada konteks sosial-budaya Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan dan komunitas adat, sehingga pendidikan presisi menjadi lebih adil, relevan, dan manusiawi.(*)
Daftar Pustaka
- Du Plessis, E. (2024). The Impact of Artificial Intelligence on Teacher Training in Open Distance and Electronic Learning. https://doi.org/10.14293/PR2199.000731.v1
- Unescounesco. (2024). Structure of the AI competency framework for teachers. Unescounesco. https://www.jstor.org/stable/resrep70525.9
- Yang, S. J. H. (2021). Guest Editorial: Precision Education—A New Challenge for AI in Education. International Forum of Educational Technology & Society, 24(1), 105–108.
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



