Maluku Tenggara

Ohoi Ohoiel Disiapkan Jadi Pelopor Desa Tangguh Bencana di Maluku Tenggara

potretmaluku.id – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mendorong penguatan kapasitas masyarakat sebagai fondasi utama pengurangan risiko bencana melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). 

Program tersebut diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan warga di wilayah kepulauan yang rawan gempa bumi, cuaca ekstrem, banjir, dan gelombang tinggi.

Komitmen itu disampaikan Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun saat membuka kegiatan pembentukan Destana di Ohoi Ohoiel, Kecamatan Kei Besar, Kamis, 6 Agustus 2026.

Hanubun mengatakan karakter geografis Maluku Tenggara yang didominasi wilayah kepulauan menyimpan potensi sumber daya alam sekaligus menghadapkan masyarakat pada berbagai ancaman bencana alam.

“Kita tidak dapat mencegah bencana alam terjadi, tetapi kita dapat mengurangi risikonya apabila masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, kesiapsiagaan, dan kemampuan untuk bertindak secara cepat dan tepat,” kata Hanubun.

Menurut dia, paradigma penanggulangan bencana kini tidak lagi berfokus pada penanganan saat bencana terjadi, melainkan mengedepankan upaya pencegahan, mitigasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat. 

Pendekatan itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menempatkan penanggulangan bencana sebagai tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, kata Hanubun, mendukung penuh implementasi Program Destana sebagai strategi membangun ketahanan masyarakat dari tingkat desa.

Melalui program tersebut, masyarakat dibekali kemampuan mengenali potensi ancaman, menyusun peta risiko bencana, membentuk tim relawan desa, menyusun rencana evakuasi, menentukan jalur penyelamatan, hingga melaksanakan simulasi kebencanaan secara berkala.

“Tujuan utama Destana adalah membangun desa yang mampu mengenali ancaman bencana, memahami tingkat kerentanannya, memanfaatkan potensi lokal, serta mampu melakukan pencegahan, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan secara mandiri,” ujar Hanubun.

Ia mengingatkan agar pembentukan Destana tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurut dia, hasil pelatihan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat memiliki budaya sadar bencana.

Hanubun juga mengangkat falsafah masyarakat Kei, Ain Ni Ain, sebagai nilai yang memperkuat solidaritas dalam menghadapi bencana. Semangat persaudaraan, kata dia, menjadi modal penting ketika masyarakat harus saling membantu pada saat terjadi keadaan darurat.

“Dalam menghadapi bencana, tidak ada seorang pun yang mampu berdiri sendiri. Keselamatan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh masyarakat bersatu, saling peduli, dan saling melindungi,” katanya.

Bupati mengajak pemerintah ohoi memasukkan program pengurangan risiko bencana ke dalam dokumen perencanaan pembangunan desa. Ia juga mendorong tokoh adat, tokoh agama, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, kaum perempuan, serta generasi muda berperan aktif memberikan edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.

Menurut Hanubun, kesiapsiagaan menghadapi bencana hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan komunitas lokal.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap Ohoi Ohoiel menjadi pelopor Desa Tangguh Bencana di Kecamatan Kei Besar sekaligus menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam membangun masyarakat yang lebih aman, tangguh, dan adaptif terhadap ancaman bencana.(TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button