Oleh: Elsa E. Peea (Magister Administrasi Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana)
Perkembangan teknologi telah merubah lanskap kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang cukup berkontribusi besar adalah Artficial Intelligenece (AI) atau kecerdasan buatan.
AI telah menjadi alat yang pada satu sisi mengubah metode pembelajaran dan pada sisi yang lain membuka peluang pada efesiensi administrasi dan peningkatan kualitas pengajar. Selain AI, peran guru menjadi sangat penting dalam hubungan interpersonal dengan anak didik.
Apa peran guru di era teknologi yang pesat? Apakah AI akan menggeser posisi tenaga pendidik? dalam realitas ini kita tidak berusaha menentukan posisi dominan akan tetapi kehadiran yang inklusif dan humanis di ruang-ruang kelas.
Dalam hal ini, kehadiran guru mempunyai satu point lebih dibanding AI. Kasih sayang, keteladanan dan perlindungan kepada anak didik adalah bentuk humanisme sang guru yang bertanggungjawab pada peserta didik.
Di wilayah-wilayah kepulauan seperti Maluku, nilai-nilai budaya cukup kental mewarnai dunia pendidikan sehingga memungkinkan aktifitas belajar mengajar berjalan dalam ruang yang kondusif, ramah, inklusif dan bersahaja. Kei, merupakan kabupaten/kota di wilayah administrasi provinsi Maluku yang kaya akan adat istiadat.
Kekayaan ini memberi kontribusi positif pada perkembangan pendidikan terutama nilai-nilai budaya yang masih sangat relefan dalam proses belajar mengajar guru di kelas. Terdapat tiga filosofis yang dinilai relefan menjadi rod map guru dalam melakukan tugas belajar-mengajar.
Tiga filosofis tersebut adalah Fangnanan, Tuntunan dan Visbad. Ketiganya tidak hanya merupakan filosofis kepemimpinan yang dapat membentuk masyarakat adat yang kuat. Tiga warisan budaya ini juga dapat menjadi inspirasi bagi penerapan pendidikan yang humanis dan inklusif.
-
Fangnanan
Seperti yang sudah disentil sebelumnya bahwa kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi peluang, tetapi juga menjadi tantangan bagi manusia khususnya dalam konteks pendidikan.
Stephen J.H. Yan mengulas dalam karyanya Guest Editorial: Precision Education – A New Challenge for AI in Education, AI berperan untuk mendiagnosis perilaku belajar, mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan, dan memberikan intervensi yang tepat waktu.
Namun bagi Stephen sendiri, teknologi itu bersifat dingin karena keputusan berbasis data, dan tidak otomatis mempertimbangkan konteks emosional (kasih sayang), dan budaya. (Yang, 2021).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



