Permintaan itu, menurut Wali Kota, bukan sekadar program. Itu adalah jeritan yang sudah lama disuarakan masyarakat pesisir.
Ketika nelayan harus mengeluarkan ongkos lebih besar hanya untuk mengisi BBM, maka keuntungan kecil mereka hilang sebelum sempat dikantongi. “Saya sampaikan itu langsung ke Pak Menteri. Dan beliau tanggapi positif,” tambahnya.
Ekonomi Mikro: Di Mana Satu Liter BBM Bisa Menentukan Masa Depan Anak
Bagi banyak nelayan dan keluarganya, satu liter BBM lebih dari sekadar angka. Ini adalah biaya sekolah anak, obat untuk istri yang sakit, atau modal untuk belanja umpan. Dalam situasi ekonomi yang masih rapuh pascapandemi dan hantaman inflasi global, ketahanan keluarga nelayan benar-benar diuji.
“Saya pernah pulang dengan tangan kosong karena bensin habis di tengah laut,” kenang Pak Iwan. “Harus ditarik teman pakai tali. Malu rasanya, tapi apa daya?”
Menurut data yang dihimpun oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, lebih dari 65% nelayan skala kecil di daerah pesisir belum memiliki akses mudah terhadap BBM bersubsidi.
Banyak dari mereka membeli BBM eceran dengan harga jauh di atas HET. Jika SPBU khusus nelayan bisa diwujudkan, maka bukan hanya beban ekonomi mereka yang ringan tapi produktivitas juga bisa meningkat.
“Kalau dekat, saya bisa melaut lebih pagi dan pulang bawa hasil lebih banyak. Sekarang ini kami banyak buang waktu dan tenaga hanya untuk cari bensin,” ungkap Laila, seorang ibu nelayan yang juga mengelola hasil tangkapan suaminya di pasar.
Dari Usulan Menjadi Kebijakan: Langkah Awal yang Menyalakan Asa
Wali Kota Ambon menegaskan bahwa permintaan pembangunan dua SPBU nelayan itu memang masih berupa usulan. Namun, ia memastikan langkah lanjut akan segera dilakukan melalui surat resmi dan koordinasi dengan kementerian.
“Yang penting, Pak Menteri sudah tahu. Dan respon beliau sangat baik. Kami tinggal tindak lanjuti secara formal,” ujarnya penuh optimisme.
Dalam dunia kebijakan, suara seperti ini sering kali tertelan oleh hiruk pikuk proyek-proyek besar. Tapi kali ini berbeda. Ada sinyal yang jelas bahwa suara nelayan, suara rakyat kecil, mendapat tempat di meja perundingan nasional.
Dan ini menjadi bukti bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang gedung tinggi atau jalan tol, tapi juga tentang memastikan perahu-perahu kecil bisa terus melaju.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



