Wali Kota Wattimena, bahkan telah menyiapkan strategi khusus untuk pengelolaan gedung baru Pasar Mardika jika kewenangan itu diserahkan kepada pemerintah kota.
Ia berencana membagi waktu operasional pasar menjadi dua sesi: pagi hingga sore untuk pedagang kebutuhan pokok, dan sore hingga malam untuk pedagang kaki lima. Sebuah solusi kreatif yang diharapkan dapat mengurai kemacetan dan memberikan ruang bagi semua pedagang.
Selain itu, mungkin perlu dipikirkan bahwa tidak bisa memaksakan semua pedagang mengisi Pasar Mardika. Karena ada kesan, kawasan ini sebenarnya sudah over kapasitas. Kenyataan yang ada, sampai sebelum penertiban digelar, para pedagang nyaris tak berjarak lagi. Bahkan justru terlihat menumpuk bak kue lapis.
Mungkin juga perlu ada peraturan ketat soal jumlah pedagang di kawasan Mardika. Pasalnya selama ini yang terlihat, warga dari mana saja datang berjualan di Pasar Mardika.
Entahlah, apakah mungkin akibat “kegagalan” pemkot selama ini, yang membangun banyak pasar rakyat tapi tidak berfungsi dengan baik. Padahal idealnya pasar-pasar rakyat di beberapa kawasan itu bisa menjadi penyangga, sehingga pedagang tidak menumpuk di Mardika.
Kisah Pasar Mardika adalah cerminan dari dinamika pembangunan di banyak kota. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menata kota, menciptakan ketertiban, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Di sisi lain, ada perjuangan kaum kecil untuk bertahan hidup, mencari rezeki di tengah keterbatasan ruang dan kesempatan. Kebijakan ekonomi, sekecil apapun, memiliki dampak langsung pada kehidupan manusia. Di balik angka-angka statistik, tersembunyi kisah-kisah perjuangan, adaptasi, dan harapan.
Penertiban Pasar Mardika mungkin berhasil melancarkan arus lalu lintas, namun pertanyaan besar tetap menggantung: apakah kebijakan ini juga berhasil menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi para pedagang kecil? Apakah gedung baru Pasar Mardika akan menjadi rumah kedua yang nyaman dan menguntungkan bagi mereka? Atau justru menjadi monumen bernilai puluhan miliar nan sepi, yang mengingatkan pada hilangnya ruang hidup dan mata pencaharian?
Masa depan ekonomi yang lebih adil dan inklusif membutuhkan lebih dari sekadar penertiban dan pembangunan fisik. Dibutuhkan kebijakan yang berpihak pada kaum lemah, yang mendengarkan suara mereka, dan yang memberikan solusi yang berkelanjutan.
Ketahanan masyarakat tidak hanya diukur dari lancarnya jalanan, tetapi juga dari kemampuannya untuk melindungi dan memberdayakan setiap warganya, termasuk para pedagang kecil di Pasar Mardika yang menjadi denyut nadi kehidupan kota.
Semoga, di balik penataan yang rapi, hati nurani kota tetap terjaga, dan setiap langkah pembangunan membawa berkah bagi semua. (Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



