Mama Ully: Rujak, Senyum, dan Keteguhan di Bawah Terik Natsepa
Dari jumlah itu, ia masih harus membayar sewa tempat sebesar Rp10 ribu per hari. Jika dihitung dengan jujur, keuntungan bersihnya sering kali hanya cukup untuk kebutuhan harian.
Namun bagi Mama Ully, dagangan itu bukan sekadar urusan laba dan rugi. “Ini mama pung kebanggaan,” ucapnya pelan.
Ia tidak ingin menggantungkan hidup kepada anak atau cucu. Setiap rupiah yang dihasilkan menjadi tanda kecil bahwa dirinya masih kuat, masih berguna, dan masih mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Hari-hari ramai menjadi waktu yang ditunggu. “Hari Jumat, Sabtu, Minggu itu pengunjung paling rame,” ujarnya.
Di akhir pekan, pantai Natsepa berubah menjadi panggung hidup, riuh oleh tawa anak-anak, musik dari pengeras suara, dan aroma buah segar yang berpadu dengan angin laut. Di sela keramaian itu, Mama Ully tetap berdiri di tempatnya, seperti jangkar kecil di tengah arus yang terus berubah.
Jam Kerja yang Tak Kenal Lelah
“Biasa mama mulai bajual dari jam 10 pagi – 07 malam,” katanya. Sembilan jam di bawah terik matahari, dihempas angin laut, ditemani debur ombak, semuanya dijalani dengan sabar.
Kadang ia menatap laut sejenak, menarik napas panjang, seolah berbicara dengan ombak yang setia menemaninya setiap hari. “Kalau cape, mama liat laut. Hati jadi tenang,” ujarnya, menatap jauh ke cakrawala.
Di antara kesederhanaan tempat jualannya dan sepiring rujak, tersimpan pelajaran hidup yang mahal harganya. Mama Ully mungkin tak menyadari bahwa dirinya telah menjadi guru bagi banyak orang, mengajarkan arti ketabahan, kesabaran, dan kegigihan melalui caranya bertahan di tepi pantai.
Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang itu, banyak penjual datang dan pergi, namun Mama Ully tetap di sana, menjadi bagian dari denyut nadi Natsepa.
Ia bukan hanya penjual rujak, melainkan penjaga memori kolektif tempat itu. Nama dan wajahnya menempel dalam ingatan banyak wisatawan seperti rasa manis-pedas rujaknya: sederhana, tapi sulit dilupakan.
Esok, ketika matahari kembali terbit di atas laut Natsepa, Mama Ully akan tetap berada di sana. Dengan senyum dan semangat yang tak pernah pudar, ia menjual bukan hanya rujak dan es kelapa muda, tapi juga secuil keteladanan: tentang keberanian menghadapi hidup dengan hati lapang dan kepala tegak.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tulisan ini merupakan tugas menulis mahasiswa semester 5 pada Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, di Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, TA. 2025/2026.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



