BI Nilai Panen Cabai Digital Bisa Redam Inflasi Pangan di Maluku
potretmaluku.id – Panen cabai di Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura Dusun Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, pada Rabu, memperlihatkan perbandingan mencolok antara sistem digital farming dan metode konvensional.
Panen perdana itu menjadi salah satu capaian dari program tanam serempak cabai yang digelar Pemerintah Provinsi Maluku sejak Agustus lalu.
Acara panen melibatkan pemerintah daerah, Bank Indonesia Perwakilan Maluku, serta kelompok tani dan para penyuluh. Mereka meninjau langsung dua model budidaya yang dikelola Komunitas Smart Farming Maluku sejak 2023.
Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda, menyebut keberhasilan panen tersebut sebagai hasil kolaborasi lintas lembaga.
“Gerakan tanam serempak yang dicanangkan Bapak Gubernur kini kita panen bersama. Ini bukti kerja kolektif menuju sistem pertanian modern,” ujar Ilham.
Ia mengatakan model pertanian digital akan direplikasi ke Tual, Masohi, dan sejumlah wilayah penyangga lain. Tujuannya agar petani memperoleh akses pada teknologi yang dapat meningkatkan hasil dan efisiensi lahan.
Ketua Komunitas Smart Farming Maluku, Rasyid, memaparkan data panen yang menunjukkan selisih signifikan antara dua metode budidaya tersebut.
Pada komoditas cabai, sistem digital farming menghasilkan 2,1 ton dari lahan 0,4 hektare, atau meningkat sekitar 34 persen dibandingkan metode konvensional yang menghasilkan 1,6 ton.
Kenaikan lebih besar tercatat pada bawang merah. Sistem digital menghasilkan 3,2 ton, sementara metode konvensional hanya mencapai 1,4 ton, atau selisih produksi hingga 51 persen.
“Digital farming membantu kami memahami kebutuhan tanaman secara akurat, dari kelembapan tanah sampai dosis pupuk,” kata Rasyid.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Mohamad Latif, menilai hasil panen perdana tersebut penting bagi stabilisasi harga pangan.
Ia mengingatkan bahwa pada Oktober lalu inflasi volatile food Maluku mencapai 5,12 persen, dipicu kenaikan harga cabai rawit yang sempat menembus Rp100 ribu per kilogram. Kondisi itu menempatkan Maluku dalam kategori “zona merah” inflasi nasional.
“Panen ini diharapkan menambah pasokan cabai di pasar lokal sehingga bisa menekan harga dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat,” kata Latif. Ia menyebut langkah itu sejalan dengan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Panen perdana tersebut ditutup dengan penyerahan doorprize berupa alat penyemprot elektrik kepada petani, sebagai dukungan bagi upaya memperluas penggunaan teknologi pertanian.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



