Maluku TengahWisata

Mama Ully: Rujak, Senyum, dan Keteguhan di Bawah Terik Natsepa

Oleh: Lamberth .D. Anmama (Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri/IAKN Ambon)


Udara panas Pantai Natsepa di Pulau Ambon siang itu seolah tak kuasa, melunturkan senyum tulus di wajahnya yang mulai berkeriput. 

Di balik lapak sederhana beratap seng, tangan-tangan lincahnya menyiapkan sepiring rujak dengan gerakan terampil yang hanya lahir dari kebiasaan panjang.

“Di sini Mama jual rujak Natsepa dan es kelapa muda,” katanya sambil menyodorkan sepiring rujak dengan senyum ramah.

Mama Ully, begitu ia disapa, bukan sekadar penjual rujak biasa. Ia adalah saksi hidup perjalanan waktu Pantai Natsepa, bagian dari memori kolektif wisatawan yang pernah singgah mencicipi manis-pedasnya rujak Ambon yang tersohor itu. 

Setiap pengunjung yang datang, entah dari kota, dari luar pulau, bahkan dari luar negeri, hampir selalu mengenang satu hal yang sama: wajah ceria Mama Ully yang menyambut mereka di tepi pantai.

Dua Dekade di Bawah Terik Matahari

“Su masuk 21 tahun mama bajual di sini, karna su dari tahun 2004,” ujarnya dengan logat Ambon yang kental. 

Dua puluh satu tahun, rentang waktu yang cukup panjang untuk mengubah seorang ibu muda menjadi nenek, untuk melihat anak-anak tumbuh dewasa, dan untuk menjadikan dirinya legenda kecil di tepi pantai ini.

Yang membuat kisahnya lebih bermakna adalah kehadiran sang pendamping setia. “Yang biasa bantu mama buat untuk jualan itu mama pung pitua,” katanya dengan mata berbinar. 

Sang suami, yang sudah menemaninya puluhan tahun, tetap setia membantu, menyiapkan buah, mencungkil kelapa muda, atau sekadar memastikan meja jualan tak goyah diterpa angin laut. 

Di usia senja, keduanya justru makin kompak, seolah telah bersepakat untuk terus berjalan bersama menghadapi gelombang kehidupan yang tak selalu tenang.

Di balik ketegaran Mama Ully, tersimpan keseharian yang jauh dari kata mudah. Pendapatan hariannya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. 

“Tapi belanja untuk jualan itu bisa sampai Rp250 ribu,” ujarnya tanpa mengeluh.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button