Pendapat

Malino, Spathodea, dan Cerita Lainnya

PENDAPAT

Saya memilih berhenti beberapa jenak untuk meluruskan punggung, sembari menikmati panorama alam dengan layer-layer bebukitan nan indah. Saya bertanya ke pedagang bakso itu, berapa jarak lagi ke Malino. Dia bilang, hanya sekira 15 kilometer saja.

Tak berapa lama, setelah melanjutkan perjalanan ke arah yang akan saya tuju, hawa dingin mulai menyambut. Terlihat hutan pinus yang pucuk-pucuknya melambai, seolah memberi salam selamat datang kepada saya.

Di sisi kiri, saya sempat melirik prasasti Malino 1927, dengan cetakan angka yang cukup mencolok. Angka “1927” merupakan tahun Malino dikembangkan sebagai tempat peristirahatan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Memasuki tahun 1930-an, gereja, pesanggerahan, dan vila-vila dibangun. Juga berbagai ragam bunga ditanam yang didatangkan dari negeri Kincir Angin itu atau dari tempat lain. Jaringan jalan juga dibuat, lalu pedestriannya ditanami bunga Spathodea.

Bunga Spathodea (Spathodea Campanulata) atau Tulip Afrika, didatangkan oleh Belanda dari negara Afrika tropis. Pohon dengan bunga warna merah-orange yang bisa tumbuh hingga setinggi 75 kaki ini, punya banyak sebutan.

Bunga ini biasa pula disebut Kiacret, pohon hujan, muncrat, crut-crutan, atau pacco-pacco. Warna bunganya yang cerah, kontras dengan warna hijau pada daunnya, sehingga dapat dilihat dari jauh. Berdasarkan referensi yang saya baca, bunga Spathodea ini bisa jadi pewarna alami untuk kain.

Pukul 11.05 saya tiba di Hotel Celebes Malino, dan langsung diarahkan menuju ruang Rakerda oleh Bahar Karca, Ketua Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Makassar, yang merekomendasikan saya hadir di acara ini.

Beruntung, saya tidak terlalu terlambat karena masih dapat mengikuti sambutan utuh Ketua DPD PAPPRI Sulawesi Selatan, Dr Ilham Arief Sirajuddin. Saya mengikuti sambutan yang menekankan pentingnya penghargaan atas karya pencipta lagu dan musisi itu, sambil menikmati kopi hangat.

IAS begitu sapaan mantan Walikota Makassar dua periode ini akrab disapa, juga mengajak peserta Rakerda membangun ekosistem musik yang adaptif dan berkelanjutan, termasuk musik tradisional.

“Belanda dahulu itu, pedestriannya berupa rumput hijau, jadi kalau ada bunga dari pohon Spathodea jatuh, dibiarkan karena justru terlihat indah. Sekarang pedesterian itu sudah dibeton. Spathodea itu berarti air yang muncrat,” cerita Daeng Sayang, kenalan baru, yang juga diundang dari unsur komunitas dalam Rakerda PAPPRI ini.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button