Pendapat

Malino, Spathodea, dan Cerita Lainnya

PENDAPAT

Di bulan Juli 2017, saya berkesempatan kembali naik ke Malino, saat Reuni 30 Tahun Fakultas Hukum UNHAS Angkatan 87.

Saya kebagian panitia, jadi pergi terlebih dahulu bersama Harun Ar Rasyid, mempersiapkan segala sesuatunya. Kami nginap di Villa Masagena, milik teman seangkatan kami, Prof. Suryaman Mustari Pide atau yang akrab disapa Riry.

Di Malino, saat itu, kami mengontak teman yang orang Malino, namanya Mahatma Hafel (Ato). Rupanya dia juga mengajak teman-temannya membantu kami memasang baliho ukuran besar menggunakan bambu yang dipancang dan disandarkan pada tebing agar tidak roboh diterpa angin.

Pengalaman pernah berkunjung ke Malino itu, yang terekam saat melewati bentang jalan dengan pepohonan yang masih hijau di kedua sisinya.

Kadang, mata saya menangkap, ada aktivitas kendaraan berat menggali pasir dan batu untuk keperluan proyek-proyek pembangunan. Pasir dan batu itu diangkut iring-iringan truk, yang kemudian ikut memperlambat laju sepeda motor saya. Perlambatan juga terjadi bila terdapat ruas jalan dengan kondisi yang rusak.

Ketika melewati wilayah Parangloe, teringat buku “Keluarga Pagarra” yang saya tulis, tahun 2021. Buku biografi H Pagarra Daeng Rumpa di antaranya berkisah tentang anggota Polri itu, yang dikaryakan menjadi Camat Parangloe, antara tahun 1978-1985.

Di masa Kapten Pol (Purn) H Pagarra Daeng Rumpa sebagai camat, sejumlah orang penting di masa Orde Baru melakukan kunjungan kerja di Parangloe, di antaranya Menhankam/Pangab, Jenderal TNI M. Jusuf, Menteri Penerangan (Menpen), Ali Moertopo, dan Mendikbud, Daoed Joesoef.

Dua Gubernur Sulawesi Selatan, secara terpisah, juga pernah ke Parangloe, masing-masing H. Andi Odang, dan Prof. Ahmad Amiruddin.

Begitu kendaraan saya memasuki wilayah Parigi, saya langsung teringat Labbiri. Beliau ini guru, pegiat literasi, dan penulis buku dengan tema-tema lokal.

Saya sengaja menepikan sepeda motor yang saya kendarai untuk memotret spot yang bisa ditandai sebagai wilayah Parigi. Ini semacam kode bahwa saya melewati kampungnya, dan akan menuju ke Malino hehehe.

Saya kian bersemangat, setelah singgah di suatu tempat dan bertemu seorang pedagang bakso.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button