Pendapat

Malino, Spathodea, dan Cerita Lainnya

PENDAPAT

Saya ngobrol dengan Qashidah Ardan, SH Daeng Sayang dan suaminya, Daeng Nassa, saat makan siang. Kami bertukar pandangan tentang aktivitas kesenian, dan apa yang bisa dilakukan bersama.

Di saat itulah, Daeng Sayang bicara banyak soal Spathodea, bunga yang mempesona, tapi luput saya perhatikan. Beliau bahkan menunjuk bunga itu dari ruang di mana kami duduk ke arah luar jendela. Samar-samar saya melihatnya, tapi terhalang kabut. Hari itu, Malino diguyur hujan.

Qashidah Ardan Daeng Sayang merupakan pegiat seni budaya. Ardan itu merupakan akronim dari nama ayahnya, H Abd Rauf Daeng Nompo Karaeng Parigi. Beliau merupakan tokoh pejuang, dan pernah menjadi Camat Tinggimoncong selama lebih tiga dekade.

Katanya, bunga Spathodea itu merupakan ikon Malino, selain kawasan wisata hutan pinus. Beliau pernah membuat tarian Spathodea yang dibawakan secara massal dengan100 penari di Lapangan Anggrek, Malino.

Tarian Spathodea oleh pelajar yang tergabung dalam Sanggar Seni Bawakaraeng itu diadakan guna memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2018. Saat itu, secara kolosal para penari berpakaian hitam dipadu selendang warna orange berlenggok gemulai membentuk formasi estetik.

“Saya mau angkat itu, semua orang menari Spathodea di jalanan, biar memecahkan rekor MURI. Menarik kalau disyuting dari atas menggunakan drone, tampak orang dengan baju orange di antara rimbun pohon-pohon hijau. Apalagi keberadaan Spathodea ini juga punya aspek sejarah yang perlu dimunculkan,” begitu impian Daeng Sayang.

Katanya, ada kepercayaan warga di Malino bahwa kalau bunga Spathodea masih berbunga maka masih akan turun hujan. Sebaliknya, apabila pohon Spathodea tidak lagi berbunga maka akan memasuki musim kemarau.

Obrolan kami hari itu juga terkait perhelatan Beautiful Malino 2025, yang kali ini bertema Colours of Culture. Event tahunan ini mulai diadakan Rabu-Minggu, 9-13 Juli 2025, dengan area kegiatan utama berada di kawasan wisata hutan pinus.

Alumni SMA Negeri 1 Makassar ini menyarankan penyelenggara acara perlu lebih menggali potensi dan keunikan tradisi budaya yang akan ditampilkan.

Misalnya, terkait pertunjukan, ada tradisi petani sebagai representasi dari warga yang bisa diperkenalkan kembali. Budaya lokal itu seperti akbarutu atau akpadeko, yakni tradisi menumbuk lesung saat pesta panen.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button